Another Episode of Being A Working Mum


Sumber  gambar: http://media-cache-ak0.pinimg.com/736x/cc/8a/3c/cc8a3c0f99024c1d5200c6be57082210.jpg

Pernah dengar kan tentang SAHM (stay at home mum) versus WM (working mum). Gak nyangka ngalamin juga secara nyata "perang" antar mummies yang kebetulan berbeda profesi. Selama ini "perang" itu banyak saya temui dan baca2 di dunia maya yang gak nyata di depan mata. Jadi saya sih so far, ya biasa-biasa (ah masa' sih hihihi. Pernah ding ikutan thread agak 'panas' para ibu ini, tapi itu duluuuuu :p ).

Kemarin, menjelang ngambil raport anak, saya ngobrol2 sama seorang ibu yang anaknya satu kelas dengan anak saya. Kebetulan rumahnya juga cuma beda beberapa blok dari rumah saya.

Nah, layaknya ibu2, kita ngobrol dong ngalor ngidul. Terutama sih masalah anak. Di situlah kemudian, saya baru ngalamin betapa para ibu bisa segitunya sama rekan sejawatnya (sesama ibu maksudnya :p ).

Ibu teman anak saya itu, membangga-banggakan anaknya yang menurut anak saya emang nilainya selalu bagus dan jadi kesayangan wali kelas. Sampe situ gak ada masalah. Saya juga ikut senang mendengarnya. Karena selama ini saya gak ambil pusing sama prestasi anak2 lain sepanjang anak saya sendiri gak bermasalah.

Ketika, sang ibu tersebut membandingkan prestasi anaknya dengan anak saya, barulah saya tersentak. Saat yang bersangkutan bilang bahwa kemajuan anak saya karena prestasi gurunya. Mendengar itu rasanya, pingin meledak ini kepala. Untungnya otak saya masih waras. Jadi saya menjawab seperlunya. Saya pikir, gak perlulah saya bela diri karena bisa jadi tambah panas suasana. Cukup saya aja yang harus belajar dari perlakuannya tersebut.

Tapi, bagaimanapun percakapan saya dan sang ibu terus terngiang-ngiang. Membuat saya jadi tambah sadar betapa pentingnya menjaga lidah. Saya juga harus lebih keras belajar untuk menahan diri saat berbicara dengan orang lain. Karena saya gak tau apakah komentar saya nanti bisa melukai hati teman bicara saya.



Balik ke soal anak. Pola pendidikan keluarga saya tentu berbeda dengan pola pendidikan di keluarga ibu yang bersangkutan atau ibu2 lain. Kami (suami dan saya) sejak awal, memang berkomitmen untuk tidak menekan anak terlalu keras dalam pelajaran. Apalagi di awal masa sekolahnya yang baru mencapai SD ini. Sepanjang anak saya bisa mengikuti dan enjoy belajar, kami merasa sudah cukup. Karena, sebenarnya saya pingin anak saya ikut Homeschooling yg menurut saya jauh dari yang namanya tekanan. Anak bisa enjoy dan merasa fun dalam prosesnya belajar. Walaupun pada akhirnya, karena satu dan dua kendala, kami gak jadi HS.


Anak saya memang bukan juara kelas menginjak 2 tahun perjalanannya di Sekolah Dasar. Tapi menurut pengamatan saya, banyak kemajuan yang udah dia raih. Terutama masalah kejujuran. Kami memang menekankan, dia harus jujur dalam hidupnya. Saat ujian kenaikan kelas atau ulangan. Berapapun nilai yang dia dapat, sepanjang itu ia raih dengan belajar dan jujur, kami akan selalu bangga padanya.

Kelebihan anak saya yang lain adalah kuatnya dalam logika. Jadi nilai matematikanya biasanya selalu bagus. Tanpa ikut bimbingan belajar semacam Kum*n atau J*rimatika, yang dari awal kelas 1 selalu maju mundur ikut apa enggak, alhamdulillah dia bisa menemukan metodenya sendiri. Good job, my girl ^_^. Begitu juga dengan IPA yang nilainya jauh di atas rata-rata kelas. Sedangkan kelemahannya, anak saya itu tidak terlalu tekun menghapal. Jadi untuk pelajaran-pelajaran hapalan masih harus digenjot. Nah, saya gak mau terlalu menekan dia. Asal nilainya gak jeblok, saya biasanya gak akan memaksa untuk dia mendapatkan nilai sempurna. Sepanjang dia sudah keras berusaha, saya akan hargai semua nilainya.

Sebagai ibu yang bekerja di luar, saya akui mungkin upaya saya tidaklah seoptimal dan semaksimal ibu2 yang diberi keberuntungan bekerja di rumah. Tapi bukan berarti saya juga tidak berusaha untuk mendidik putra dan putri saya.

Suami dan saya ingin, anak-anak kami bisa menikmati setiap detik momen belajarnya. Menjalani proses bereksplorasi terhadap semua minat dan kemampuannya secara wajar dan normal. Kami tidak ingin membebani mereka dengan target-target nilai yang menurut kami walaupun penting tapi tidaklah lebih utama dari esensi belajar itu sendiri. Menjalani proses mengetahui dan memahami. Bukan sekedar hapal dan kemudian lupa seiring berjalannya waktu.

Kami tidak ingin anak-anak kami tumbuh secara karbitan dan instan. Semata mengejar nilai akademis yang berupa angka-angka tapi mengabaikan nilai-nilai moral yang sejatinya menyertai. Kami lebih memilih anak-anak yang bisa menyerap dan mengaplikasikan nilai-nilai yang ia dapat. Bagi kami, itu adalah suatu prestasi yang membanggakan. Karena hidup tidak melulu berisi angka-angka kaku yang hitam dan putih. Karena, hidup itu sendiri adalah suatu proses menjadi lebih baik setiap waktunya.

Tapi, bukan berarti pola pendidikan ibu-ibu yang lain tidak tepat. Karena seperti yang saya tulis di awal. Setiap keluarga punya standar nilai dan target yang berbeda. Jadi tidak bisa dibandingkan. Termasuk, tidak elok rasanya membandingkan prestasi anak saya dengan anak yang lain. Karena tiap anak itu unik dan diberi kecenderungan/bakat yang gak seragam. Ada yang logikanya jalan banget, ada yang jago dan tekun menghapal dll dst dsb.


Sumber gambar : http://nururrohmahzainab.files.wordpress.com/2012/07/karena-bahagia-itu-sederhana.jpg

Saya acungi jempol untuk anak-anak para ibu bekerja di rumah yang sukses dengan nilainya yang bagus. Tapi tolong, jangan hakimi dan banding-bandingkan prestasi anak saya dengan anak-anak yang lain. Saling menghormati setiap kelebihan dan memaklumi berbagai kekurangan itu lebih indah bukan? :)

Jadilah ibu yang bijak dan memahami sesamanya. Put our feet on other's shoes, since we have no idea about their struggle. Every mum has her own battle. Don't make it worse by our words, okay? ;)


Komentar