Untuk Hakiim, Anakku Sayang





Hakiim, anakku sayang, ketika menulis ini ummi lagi kangen berat denganmu....

Hakim, jagoannya ummi. 8 bulan yang lalu (di bulan Ramadhan,saat kaum muslimin sedunia melaksanakan ibadah puasa)  ummi berjuang nak. Walau kau terlahir dengan sectio caesar, tapi taukah kau kalau ummi pun merasakan kesakitan yang sama dengan ibu-ibu yang melahirkan secara normal?

Mungkin kau begitu merindukan keluargamu ya, sehingga belum waktumu tuk lahir seperti yang diperkirakan dokter kandungan ummi, kau sudah harus dilahirkan karena ketuban tempatmu “berenang” selama 8 bulan lebih sudah pecah. Jadi kau harus dikeluarkan dari perut ummi nak agar kau bisa selamat.

Hakiim sayang, begitu terdengar suara tangismu yang keras, kau tau, itu adalah suara terindah yang pernah ummi dengar (karena dulu kakakmu tidak langsung menangis begitu lahir). Sayang, Nak, kita sama2 tidak bisa merasakan indahnya IMD, ketika harusnya kau langsung berbaring di dada ummi dan mencari sumber makananmu sendiri untuk pertama kali.

Tapi sudahlah, toh akhirnya keesokan hari ummi bisa menyusui langsung dirimu. Bahagia ummi tak terbayangkan, pertama kali memeluk dan memandang wajah mungilmu, bagi ummi kau adalah anak yang paling ganteng yang pernah ummi lihat (ummi yang narsis ).

Ketika akhirnya kita dibolehkan pulang ke rumah, dimulailah babak baru ummi sebagai ibu baru (lagi, sebab rentang waktu usiamu dan kakakmu lumayan jauh, 4,5 tahun). Menahan sakit pasca operasi yang masih belum pulih, sambil mengurusmu yang masih merah, berdua saja dengan abimu plus kakakmu yang masih balita itu, karena kebetulan eyang2mu sedang banyak keperluan yang juga sangat penting.

Jujur sayangku, masa2 awal itu sungguh berat  dilalui. Apalagi waktu itu dikantor abi sedang banyak2nya pekerjaan, sehingga abi harus sering lembur, kerja dari pagi sampai pagi lagi. Huffff, Nak kalau ummi mengingat masa2 itu, rasa cinta ummi ke abi makin bertambah.

Bayangkan, abimu yang lelah bekerja seharian, masih harus gantian dengan ummi mengganti popokmu yang basah di malam hari. Atau saat luka ummi yang tadinya kering, jadi basah karena infeksi. Saat itu abi harus merawat ummi juga yang tiap 4 jam sekali ganti perban. Abimu dengan ikhlasnya menempuh perjalanan Jakarta- Bekasi  di siang hari yang panas dan berpuasa pula (kira2 1 jam perjalanan, jadi 2 jam PP). Abi, I luv u

Dan ketika masa izin melahirkan  yang sebulan itu habis (ummi belum bisa mendapatkan hak cuti, karena masih pegawai baru), kembali dimulai babak perjuangan baru, memerah ASI. Ummi dan abi memang bertekad tuk memberikan yang terbaik yang bisa kami usahakan untukmu (dan kakakmu tentunya).

Membawa perlengkapan perang tuk menyimpan ASIP (ASI perah) setiap hari ke kantor, cooler bag dengan beberapa ice gel didalamnya agar suhu ASIP tetap terjaga sampai tiba waktunya ummi sampai di rumah (dan memasukkan ASIP ke kulkas untuk diminum olehmu besoknya). Memerah ASI dimalam hari setelah kau tidur untuk menambah stok persediaan kalau2 ada kejadian diluar dugaan.

Alhamdulillah, tekad kami memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan bisa tercapai (smoga hingga sampai 2 tahun nanti). Kau pun tumbuh normal dan sehat, Alhamdulillah. Hilang semua susah ummi ketika melihat wajahmu yang ceria.

Ummi ingat indahnya melihatmu pertama kali tengkurap, duduk, merangkak dan sekarang di usiamu yang 8 bulan kau sudah mulai belajar tuk berdiri (rambatan kalau orang Jawa bilang).

Jalanmu masih panjang nak, ibarat hari, kau masih subuh. Doakan ummi dan abi supaya bisa mendidikmu dan mengantarmu menjadi pribadi yang tangguh yang taat kepada-Nya.

Semoga Alloh selalu menjaga langkahmu ya nak, menapaki takdir hidupmu. Jadilah laki-laki yang tegar dan gagah mengarungi hidup ini, jadikan ridho-Nya menjadi tujuan hidupmu, contohlah ahklak salafus sholih nak, contohlah nabi kita tercinta, baginda Muhammad SAW.

Smoga kelak kau akhiri hidupmu dengan akhir yang terbaik nak, husnul khotimah. Dan semoga kelak Alloh kumpulkan kau dengan ummi, abi dan kakakmu dalam naungan kasih sayang-nya di akhirat ...aamiin Ya Alloh...


(Saat ini tokoh utama cerita di atas - Hakiim - sudah berumur 4 tahun :D)

Komentar

Postingan Populer