Bantu-bantu tetangga yang menikahkan putrinya, jadi teringat bertahun-tahun yang lalu saat diri sendiri menikah. Hanya akad nikah dan kemudian syukuran yang sederhana (bukan resepsi lho ya hehe)..
Mulai hidup baru berumah tangga dari minus bukan /nol. Belajar buka usaha. Warung makan deket kampus, biar suami leluasa menunaikan skripsinya yang tinggal selangkah lagi.
Hari pertama buka warung, bangun pagi jam 1 dini hari. Langsung meluncur ke pasar. Kemudian, sesampai di rumah kontrakan dengan berbekal resep dari ortu dan mertua, saya mulai meracik masakan.
Saya ingat seneeeeng banget saat ada pengunjung datang. Sambil berharap-harap cemas adakah lagi yang berkunjung mampir.
Begitulah. Sayangnya, warung makan, hanya bertahan selama sekitar 3 bulan, karena saya hamil. Sebelum warung tutup, kami putar otak cari bidang usaha lain yang acceptable di lingkungan kampus. Ketemu : rental komputer.
Dengan modal 1 komputer milik saya pribadi pemberian orang tua saat kuliah, 1 unit milik suami, dan 1 titipan teman. Lumayan. Bertahan lebih lama dr warung.
Tapi usaha rental komputer ini pun berakhir seperti warung makan. Berhenti di tengah jalan karena berbagai kendala. Kami pun kembali putar otak cari jenis usaha yang mungkin cocok untuk kami jalani.
Kami berpikir untuk menekuni usaha yang sesuai dengan kondisi tempat kampus berada. Solo, terkenal dengan batiknya. Dan jadilah kami putar haluan menjadi pedagang batik. Keluar masuk pusat penjualan batik terbesar di kota Solo untuk hunting agen batik. Audiensi dengan produsen batik berharap dapat kortingan besar sekaligus pasokan barang (alhamdulillah alaa kulli hal, pulang malah dapat ilmu dr beliau walo batik gak didapat. Tetap semangaaatt ) .
Di fase ini, Alloh berikan kepada saya seorang sahabat yang banyak membantu. Mbak yg dulu pernah satu kost. Terima kasih mbak. Sayang sekarang saya kehilangan kontak dengan beliau. Karena saya harus pulang saat wisuda suami tiba dan beliau pun kambali ke kampung halamannya di pulau seberang. Smoga Alloh ganti kebaikannya dengan berlipat ya mbak dimanapun mbak berada aamiin.
Banyak lagi cerita behind the scene yang dialami selama kurun waktu tersebut. Dari nasi yg hampir gosong karena pontang panting masak tanpa ada asisten yang membantu, sampai komputer yang mau dicuri orang saat usia kehamilan menginjak 7 bulan dll.
Kalo saya flash back perjalanan berumah tangga, saya merasa bersyukur. Walo berat dan penuh lika liku tapi Alloh izinkan saya sampai di titik ini. Saya dan suami masih tetap bekerja. Walo bidang usaha sekarang berbeda dari usaha yg pernah kami jalani.
Perjalanan hidup mengajarkan saya, betapa roda kehidupan itu berputar. Kadang kita berada di titik terendah, atau sebaliknya bisa jadi suatu waktu akan berada di titik kulminasi, titik tertinggi pencapaian. Intinya satu, jangan pernah berputus asa. Jangan menyerah.
Rizki itu sudah Alloh tetapkan untuk setiap kita. Tinggal kita yang diwajibkan menjemputnya sekuat tenaga, seikhlas doa, setulus niat di hati.
Jadi, jika suatu saat kita berada di titik atas atau sedang beranjak naik, jangan sampai kita lalai dengan kenikmatan rizki yang Alloh titipkan. Letakkan ia di tangan, bukan di hati. Supaya kita tak sungkan tuk mengalirkan sebagian yang menjadi hak org miskin dan yang membutuhkan. Supaya, kita tak sampai terlalu bersedih hati jika sewaktu-waktu Alloh hendak mengambil kembali titipan-Nya tersebut...
So, keep on the right track, :ps : kalo saat ini saya ditanya sudah puaskah dengan bidang yang sekarang saya jalani. Saya akan jawab, saya berusaha bersyukur dan menjalani sebaik yang saya bisa, insya Alloh. Walo di hati kecil, saya tetap ingin kembali menjadi seorang pelaku usaha. Entah kapan.....
Komentar
Posting Komentar