SEBENING CINTA LARAS (Bagian 2)

"Laras, maaf ini buku kamu ya?" Angga menyodorkan sebuah buku tebal kepada Laras di halaman sekolah saat bel pelajaran terakhir berbunyi. Di depan buku tercetak besar-besar sebuah judul bertemakan Psikologi. Tema yang sama sekali jauh dari minat Angga. Melihatnya saja Angga sudah enggan, apalagi untuk membacanya. Ia berotak cemerlang, tapi bukan seorang kutu buku. Kalau bukan karena ingin mendekati Laras, bisa dipastikan tidak akan pernah mau ia membacanya.
"Oh, iya. Buku ini saya cari-cari. Koq ada di kak Angga ya? Terima kasih ya, kak," jawab Laras mengambil buku yang disodorkan itu. Hatinya bingung. Karena buku itu hilang saat ia meninggalkan di atas mejanya 2 hari yang lalu saat jam istirahat.
"Dua hari yang lalu, saya lihat jatuh dari tas kamu saat kamu pulang. Mau saya panggil, kamu sudah jauh," jelas Angga. Dalam hati Angga merasa bersalah karena harus berbohong. Buku itu tidak terjatuh tapi sengaja ia ambil dari meja Laras saat si pemiliknya sedang keluar.
Rupanya Angga yang saat itu melintas di depan kelas Laras dalam misi pengintaian menangkap peluang bagus tersebut. Meja Laras yang berada di baris paling depan dekat pintu tentu saja memudahkan Angga menjalankan misinya. Kebetulan saat jam istirahat hanya satu dua anak yang berada di kelas. Itupun mereka asyik sendiri dengan gadget masing-masing. Jadi, ketika dengan hati-hati, Angga masuk ke kelas Laras dan langsung mengambil buku tersebut, tidak ada teman Laras yang melihat aksinya itu.
Ia simpan buku itu. Sambil mencari waktu yang tepat untuk mengembalikannya pada Laras. Ketika tadi ia lihat Laras berjalan sendiri tanpa ditemani temannya, segera ia menghampirinya.
"Kamu suka psikologi ya?" Angga membuka pertanyaan lebih lanjut. Ia ingin menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
"Iya, kak. Saya tertarik tentang perilaku manusia. Bagi saya, manusia itu unik. Bersikap dengan berbagai alasan dan motif. Kadang masuk akal dan logis, tapi tidak jarang latar belakangnya sesuatu di luar nalar," panjang lebar Laras bercerita. Wajahnya terlihat bersemangat.
"Kamu tahu nggak kalau menurut seorang ahli psikolog, kita sebetulnya diberi kemampuan untuk membaca orang lain. Bayi sejak 1 tahun mampu mengamati ekspresi orang dewasa dan menggunakannya untuk menentukan tingkah laku berikutnya. Bayi usia 2 tahun mampu menyimpulkan keinginan orang lain dari tatapan matanya, dan di usia 3 tahun, bayi dapat mengenali ekspresi wajah gembira, sedih atau marah. Saat menginjak usia 5 tahun, bayi sudah memiliki kemampuan dasar untuk membaca pikiran orang lain; mereka telah memiliki “teori pikiran.” Bayi mampu memahami bahwa orang lain memiliki pemikiran, perasaan dan kepercayaan yang berbeda dengan yang mereka miliki," panjang lebar Angga menjelaskan. Berusaha mencoba masuk ke hati Laras.
"Wah nggak nyangka ya, ternyata kak Angga paham tentang psikologi," puji Laras tulus. Selama ini ia tidak banyak berdiskusi tentang tema berat ini. Karena rata-rata teman sebayanya lebih tertarik membicarakan tentang cinta pertama, fashion, gadget terbaru dan semcamnya.
'Fiuuhh' lega hati Angga mendengar pujian Laras. Tidak sia-sia dirinya selama dua hari ini membuka-buka referensi tentang psikologi. Walaupun terpaksa, ternyata usahanya itu berbuah manis.
"Ah, biasa aja. Kebetulan minat kita sama. Saya juga tertarik dengan psikologi. Ilmu yang dinamis, penuh kemungkinan," Angga berbohong. Kalau boleh jujur dia jauh dari tertarik dari bidang ilmu yang satu ini. Baginya hidup itu tidak perlu dipersulit dengan mencari alasan dan latar belakang setiap perilaku manusia. Organisasi, wanita dan hang out teman-temannya jauh lebih menarik. Kalaupun setelah lulus dia melanjutkan ke universitas, jurusan yang akan dipilih adalah ekonomi. Karena setelah lulus jabatan pretisius sudah menunggu dirinya di perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh keluarganya.
"Oh, iya Laras, saya ada buku-buku bagus tentang manusia yang dibawa ayah saya dari Eropa. Kamu pasti suka. Nanti saya pinjamkan kalau kamu mau."
"Boleh, Kak. Kak Angga, sekali lagi terima kasih ya. Maaf, saya pamit dulu. Sudah ditunggu jemputan. Sampai ketemu, Kak ," tanpa menunggu jawaban Angga, Laras bergegas ke luar halaman sekolah. Sebuah mobil berwarna perak metalik sudah menunggu di depan pagar sekolah.
Angga tersenyum senang memandang Laras yang semakin menjauh. Satu langkah terlewati dengan mulus. Tinggal melancarkan strategi berikutnya. Laras akan segera masuk perangkapnya. Dan pada akhirnya dia akan berhasil menenangkan taruhan.
***
Minggu-minggu berikutnya dilalui Angga dengan intensif mendekati Laras dengan modus berdiskusi atau menawarkan untuk meminjami buku-buku bermutu yang dipesan dari beberapa toko buku online internasional. Lumayan mahal harganya. Tapi dibanding harus kehilangan motor kesayangannya yang bernilai puluhan kali harga buku-buku tersebut, Angga rela merogoh koceknya lebih dalam. Toh jatah bulanan yang ia terima selalu berlebih.
Laras yang awalnya canggung dan kikuk karena tiba-tiba saja mendapat perhatian lebih dari sang idola sekolah yang selama ini lingkaran pergaulannya sama sekali jauh dari dirinya, sedikit demi sedikit mulai membuka diri.
Kian hari, mereka kian dekat. Angga semakin mengenal Laras secara pribadi. Banyak hal-hal baru yang selama tidak diduga. Ia tidak menyangka kalau Laras yang selama ini dikenal pendiam dan cenderung menarik diri dari pergaulan, ternyata talkactive dan suka bercerita.
Laras tipe teman yang menyenangkan. Ia cerdas dan wawasannya luas hingga Angga tidak pernah merasa bosan bila sudah berdiskusi. Laraspun ternyata putri keluarga terhormat. Ayahnya seorang diplomat yang sering bertugas di luar negeri. Sejak kecil Laras lahir dan tumbuh di negara-negara maju. Walaupun sebagian besar hidupnya dihabiskan di luar negeri, bukan berarti keluarganya seperti lupa kacang akan kulit. Ayah dan ibunya selalu mendidik Laras dan saudaranya untuk hidup sederhana dan mandiri. Dan ketika 2 tahun ini ayahnya dipanggil untuk bertugas di dalam negeri, Laras sengaja dimasukkan ke sekolah negeri biasa bukan sekolah mahal bertaraf internasional.
Diam-diam tumbuh kekaguman dan simpati dalam hati Angga. Tidak menyangka gadis pendiam yang terlihat biasa ini ternyata menyimpan segudang kelebihan di banding gadis seusianya.
Waktu terus bergulir. Jangka waktu dua bulan sudah mencapai batas akhir. Rencananya lusa Angga akan menyatakan "cintanya" kepafa Laras. Cinta palsu. Dengan latar belakang taruhan. Untuk kemudian beberapa waktu kemudian "diputuskan".
Sebetulnya dengan kedekatan mereka saat ini, niat Angga untuk membuat Laras patah hati mulai surut. Ia tidak sampai hati untuk menyakiti hati Laras. Pada titik ini, Angga sudah tidak perduli terhadap motor kesayangannya itu. Tapi, di sisi lain ia tidak ingin terlihat seperti pecundang di hadapan teman-temannya. Terlihat lemah karena perasaan. Apalagi perasaan terhadap mahkluk yang selama ini selalu ia sakiti hatinya. Egonya tidak mengizinkan ia memulainya sekarang.
**
Pagi ini adalah hari yang akan menentukan bagi pertaruhan Angga. Ia sudah memastikan berdasarkan analisa hitung-hitungan yang ia buat, kemungkinan besar Laras akan menerima pernyataan cintanya. Walau berat hati Angga karena harus melukai hati Laras, tapi ia tidak mau mundur karena sekedar menuruti perasaaannya.
Angga menunggu Laras di lobi depan sekolah. Ia hapal jam seperti ini, Laras akan menunggu jemputannya. Semenit dua menit hingga berjam-jam Laras tidak muncul. Angga mulai gelisah. Laras pun sejak tadi malam tidak bisa dihubungi. Selalu terdengar nada tidak aktif setiap kali Angga mencoba menghubungi lewat telepon genggamnya.
Tiba-tiba terdengar nada masuk email. Segera ia buka telepon genggam miliknya. Jantungnya berdegup keras saat melihat di barisan paling atas email yang masuk dalam inboxnya yang tertulis pengirim atas nama Laras.
''Kepada Kak Angga yang baik,
Maaf Kak sebelumnya. Laras pergi tiba-tiba. Sebetulnya Laras ingin pamit dan memberitahu kepada Kak Angga kalau Laras akan pergi. Tapi Laras tidak punya pilihan. Semua perlengkapan Laras sudah rapi disiapkan. Tiketpun sudah dibeli. Semua mendadak Kak. Ayah mendapat tugas negara. Jadi kami sekeluarga ikut mendampingi. Persiapan sudah selesai dilakukan jauh-jauh hari. Surat-surat kepindahan Laras ke sekolah baru nanti, dan dokumen lain sudah selesai semua. Jadi memang kami tinggal menunggu surat tugas Ayah datang.
Maaf Kak, Laras tidak sempat memberitahu Kak Angga sebelumnya tentang ini. Karena Laras merasa berat harus berpisah dengan Kak Angga yang sudah begitu baik dengan Laras.
Kakak, tahu kah? Kakak sudah Laras anggap sebagai sahabat. Dan Kakak adalah sahabat pertama Laras.
Laras berharap Kakak pun senang berteman dengan Laras yang bukan siapa-siapa ini.
Oh iya, Kak Angga jangan marah ya. Laras tahu kak tentang pertaruhan Kakak dengan teman Kakak mengenai Laras. Kemarin siang saat Laras lewat di samping kantin, Laras mendengar teman-teman Kak Angga sedang membicarakan Laras dan taruhan kakak dengan mereka.
Awalnya Laras kaget dan sakit hati. Ingin rasanya Laras marah dan mencaci maki kakak. Laras benci sekali pada Kakak waktu itu.
Tapi kemudian Laras sadar. Laras tidak ingin menyimpan kebencian kepada siapa pun. Terlebih bagaimanapun kak Angga sudah baik terhadap Laras terlepas dari motif apapun.
Laras sudah memaafkan kakak. Laras tidak ingin kebencian dan kemarahan menghantui hidup Laras. Kakak nggak lupa kan diskusi kita tentang emosi manusia yang kalau kadarnya sangat intens bisa berefek merusak? Dan Laras tidak ingin seperti itu. Luka ini butuh waktu untuk bisa sembuh. Tapi Laras harus berusaha.
Kak Angga, bolehkah Laras berharap satu hal pada Kakak? Tolong hargai perasaan wanita. Jangan sakiti hati mereka Kak. Kakak punya ibu dan adik perempuan yang Kakak sayangikan? Tentu Kakak tidak ingin mereka dirusak dan disakiti oleh laki-laki tidak bertanggung jawab kan Kak? Ingat itu Kak, saat Kakak akan melukai hati seorang wanita.
Saat Kakak membaca surat ini, mungkin Laras dalam perjalanan menuju negara yang baru. Selamat tinggal Kak Angga. Doa Laras semoga Kak Angga selalu diberikan kebaikan...
Laras
@@@@
Laras menatap jendela kecil di samping tempat duduknya dalam pesawat yang akan membawanya ke sebuah negeri di seberang benua. Pemandangan di luar tampak begitu indah. Lembayung jingga senja kini mewarnai langit. Kontras dengan suasana hatinya yang terluka. Harapnya satu. Semoga Angga bisa berubah menjadi lebih baik dan luka hatinya segera pulih. Entah butuh waktu berapa lama...
(Bersambung)

Komentar

Postingan Populer