Just Being Grateful For What We Are



Pernahkah kita kagum terhadap kesuksesan hidup seseorang? Penulis yang bukunya tersebar di penjuru dunia, eksekutif muda yang karirnya cemerlang dan masa depan yang menjanjikan, wartawan yang melanglang buana mencari berita dan masuk televisi dengan mudahnya? Dan daftar akan semakin panjang kalau kita mau merinci satu persatu.

Gak perlu jauh-jauh. Teman atau tetangga sekitar rumah yang dari luarnya kita lihat begitu sempurna tanpa cela. Cantik/ganteng, muda, sukses, keluarganya bahagia?

Urip iku mung sawang sinawang, begitu orang Jawa bilang. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Padahal kita gak tau, usaha kerasnya untuk membuat rumputnya selalu hijau. Yang selama ini kita lihat dan menjadi fokus utama adalah hasil yang mereka dapat secara kasat mata, bukan proses perjalanan panjang meraih semua itu..

Saya juga sama. Suka banget membandingkan hidup saya dengan mereka yang saya anggap sukses dan berhasil, tanpa mengerti usaha keras dan perjuangannya.

Saat melakukan perbandingan tersebut, lalu kita akan merasa menjadi orang yang paling susah dan tidak bahagia. Kemudian, kita mengumpulkan berbagai justifikasi atas hasil yang kita raih. Bahwa, kita tidak cukup pandai, tidak cukup kaya, tidak mempunyai keluarga dan orang-orang yang men-support ,dsb.

Tanpa kita sadari, justru sikap kita mencari berbagai pembenaran itulah yang seringkali menghambat kesuksesan dan kebahagiaan kita. Kita sibuk mencari kambing hitam. Dan lupa untuk melihat ke dalam diri sendiri, usaha apa yang sudah kita lakukan untuk kebahagiaan kita.

Bahagia itu letaknya di hati. Bukan di titel, jabatan, harta dll. Klise memang, tapi begitulah kenyataannya.

Kita bisa saja berharta banyak, bertitel tinggi dan terhormat tapi hati terasa hampa. Dan sebaliknya, harta sederhana dan ala kadarnya, posisi biasa, bisa jadi mendatangkan hati yang lapang.

Kuncinya di cara kita menyikapi hidup ini. Kita diberi dua jalan untuk mencapai kebahagiaan : sabar dan syukur. Aplikasinya macam-macam, tergantung kreativitas dan tingkat kedewasaan masing-masing.

Gambar diambil dari sini

Jadi, daripada sibuk melihat kesuksesan orang lain dan membandingkan dengan hidup kita, kenapa tidak mulai untuk mensyukuri semua nikmat yang telah Dia berikan kepada kita?

Kenikmatan banyak bentuknya. Ia tidak selalu berwujud materi dan derivasinya. Tubuh yang sehat sehingga kita bisa bekerja optimal untuk mencapai cita-cita panjang di depan. Kesempatan waktu untuk untuk meningkatkan potensi dan kualitas diri. Dan nikmat-nikmat lain yang kita dapat tapi kita sering abaikan, istilahnya taken for granted.

Berat? Pastinya. Tapi sekeras apa kita berjuang untuk berusaha mensyukuri, sejauh mana kita berusaha, sejauh itu pulalah kebahagiaan kita.

www.quotesnsmiles.com


Jadi syukuri apa yang ada, kemudian perjuangkan apa yang menjadi tujuan kita.

Letihnya kita, perihnya ujian, jatuh bangunnya, semoga semua itu mengantarkan kita kepada kebahagiaan hakiki.

Yakinlah, bahagia itu hak semua orang yang rela untuk memperjuangkannya.... ^_^




Komentar

Postingan Populer