KETIKA MENJADI PELAJAR DI MASA KINI BEGITU BERAT

Baru saja saya mengambil hasil tes IQ (Inteliigence Quotient atau kecerdasan intelektual) anak yang saat ini bersekolah TK. Yep, you read it right. Anak TK ikut tes IQ.

Dulu saya pertama ikut tes IQ pas jaman SMP. Hasilnya? Ya lumayanlah. Setidaknya masih di atas rata2 air hehe...
Saat tadi ambil hasil tes anak, saya sempat konsultasi dengan psikolog yang menyelenggarakan tes tersebut. Bukan hanya tentang hasil tes IQ anak saya (Alhamdulillah, hasilnya tidak mengecewakan), tapi juga diskusi panjang tentang pendidikan terutama tentang kenyataan yang mengkonfirmasi kegalauan saya terhadap sistem pendidikan di negeri ini (jiahhh gaya bener dah, lagaknya mikir tingkat tinggi :p).

Kenyataan pahit bahwa anak2 berstatus pelajar di jaman ini terjebak sistem yang mengharuskan mereka berlari dengan cepat untuk mampu menguasai semua jenis ilmu. Menguasai dalam arti tahu tetapi tidak memahami inti dan filosofi ilmu tersebut. Dipaksa menghapal tanpa mengerti maksudnya. Bahkan semenjak mereka berada di jenjang pendidikan terendah, alias taman kanak-kanak.

Tidak heran kalo saat ini sangat mudah dijumpai sekolah2 dan kursus2 untuk balita bahkan ada juga sekolah untuk bayi. Belum lagi menjamurnya tempat kursus baca, calistung, bahasa Inggris dan jenis kursus2 akademis lain yang sasarannya adalah anak-anak ingusan itu.

Sedikit refleksi ketika saya bersekolah dulu. Dulu masa TK saya adalah masa bermain yang penuh keceriaan tanpa beban harus sudah bisa mengeja huruf, apalagi membaca dan berhitung. Masa di mana TK adalah tempat saya bernyanyi dan bergembira tanpa perlu ikut kursus akademis ini dan itu. Masa dimana saya baru bisa membaca saat di SD.

Suami dan saya mungkin tipe orang tua konservatif yang bisa jadi ketinggalan jaman. Kami tidak pernah membuat target anak kami harus bisa baca latin di usia berapa (tanpa mengurangi rasa hormat dan salut saya kepada para ortu yg mempunyai anak2 yg pintar dan mampu calistung di usia balita). Tapi ketika akhirnya sistem mengharuskan bahwa masuk SD sudah harus bisa calistung, mau tidak mau kami pun berusaha agar anak kami memenuhi standar tersebut. Bukan standar tertinggi, tapi standar minimal. Minimal anak saya tidak tertinggal jauh dari teman-temannya. Bukan karena kami tidak mampu, tapi lebih karena kami tidak mau membebani anak2 dengan target-target yang seharusnya belum diterapkan kepada mereka. Apalagi target yg sebetulnya adalah ambisi terpendam dari orang tua.

Begitulah. Ketika pada akhirnya kurikulum pendidikan tidak berpihak pada anak. Anak tidak diposisikan sebagai subjek bagi proses pembelajaran dirinya sendiri melalui proses eksplorasi. Untuk menemukan secara alami bidang2 yang menjadi kecenderungan dan menarik bagi dirinya. Anak-anak zaman sekarang dijejali dengan berbagai jenis pelajaran dan dipaksa untuk bisa menghapalnya. Ya, hapal bukan memahami. Yang penting bisa lulus ujian. Selesai. Tidak penting apakah nanti pelajaran tersebut bermanfaat di kehidupan nyata sehari2.

Coba saja bandingkan jumlah pelajaran yang diterima pelajar masa kini dengan pelajar di tahun '80-90an. Pelajaran sekarang lebih berat dan lebih banyak jenisnya (setidaknya dari kacamata saya yang awam ini). Padahal sejarah sudah membuktikan, banyak tokoh hebat yang lahir dari produk kurikulum pendidikan lama dimana pelajaran budi pekerti di tahun-tahun awal sekolah sama pentingnya dengan pelajaran akademis. Dimana belajar adalah sebuah proses bukan semata sejumlah nilai di raport atau piala yang berjejer.

Ah sudahlah. Siapalah saya. Siapalah psikolog yang ternyata sepaham dengan saya itu. Kami ibarat rumput di pinggir lapangan. Tak dilihat atau didengar. Di satu sisi terlalu utopis rasanya jika berharap banyak pada pemangku kebijakan yang ada di menara gading di atas sana..

Pada akhirnya, diri kitalah yang harus mengusahakan perbaikan bagi kehidupan anak-anak kita. Tugas kita  kemudian untuk menemukan dan memilih sekolah yang tepat untuk mereka. Minimal tidak terlalu jauh melenceng dari visi dan misi yang sudah kita rancang jauh-jauh hari..
‪#‎curcol‬ di awal Maret yang lembab karena hujan masih setia menyirami bumi

*Gambar di ambil dari sini.



Komentar

Postingan Populer