Ketika Anak-Anak "Harus" Bekerja di Jalanan
Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang Maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas Isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Cepat langkah pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
Siapa yang suka sama lagu-lagunya Bang Iwan Fals? Lagu-lagu dengan lirik sederhana tapi sarat dengan makna tentang nilai-nilai kemanusiaan dan terkadang penuh dengan satire atau sindiran halus. Saya adalah salah seorang penggemar lagu-lagunya, walaupun bukan anggota OI :).
Lagu di atas itu salah satunya. Cerita tentang anak jalanan yang harus bekerja membanting tulang di usia yang seharusnya diisi dengan menikmati masa-masa indah menjadi seorang anak kecil.
Isi lagu itu menohok sekali. Menggedor lubuk hati terdalam kita. Fenomena anak-anak yang bekerja di jalanan makin ke sini makin marak. Bukannya berkurang malah terus bertambah.
Di persimpangan lampu merah. Di pinggir-pinggir jalan. Di stasiun, terminal. Penuh dengan anak-anak yang menjajakan berbagai barang. Koran, minuman, suara (alias pengamen), belas kasian (menjadi pengemis) dan lain-lain, dan sebagainya.
Penampilannya kotor berdebu. Kadang tanpa alas kaki dan hanya berpakaian seadanya. Di tengah terik matahari yang menyengat. Di bawah hujan yang turun menderas. Di antara riuhnya lalu lintas yang padat dan sesak penuh asap polusi udara.
Bekerja di jalan tentu bukannya tanpa resiko. Apalagi untuk anak-anak semuda mereka. Tertabrak kendaraan, sakit paru-paru karena terlalu sering menghisap udara yang penuh polusi, kekerasan seksual dan lain-lain.Yang paling banyak diangkat kasusnya adalah kekeran seksual yang harus dialami. Hidup dan bekerja di jalan, tanpa orang dewasa yang melindungi membuat mereka rentan menjadi korban.
Pertanyaannya kemudian, mengapa mereka bisa ada di jalan? Di mana orang tua mereka? Banyak jawaban yang bisa muncul. Lari dari rumah dan hidup di jalanan (ini biasanya terjadi karena ada kekerasan dalam rumah yang dilakukan baik oleh orang tua, ataupun anggota keluarga yang lain). Atau yang lebih miris, mereka bekerja di jalanan justru karena di suruh oleh orang tua mereka.
Kejamkah orang tua mereka tersebut? Iya, menurut saya mereka kejam. Melakukan kekerasan fisik terhadap anak sendiri atau menyuruh mereka bekerja di usia semuda itu untuk membantu mencari nafkah tentu bukan sikap sebagai orang tua yang baik.
Tapi, di sisi lain saya juga menyadari. Realitas harga berbagai bahan pangan, papan dan sandang yang kian meroket. Tapi tidak diimbangi dengan jumlah pendapatan yang diterima. Sedangkan ada perut-perut yang harus diisi untuk sekedar bertahan hidup.
Jadi, mau tidak mau, ketika orang tua tidak sanggup menyediakan semua kebutuhan hidup tersebut, maka kemudian anaklah yang jadi "korban". Dipaksa membantu untuk bekerja. Salahkah? Bisa jadi. Tapi tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Himpitan ekonomi terkadang mengalahkan berbagai logika wajar kita sebagai manusia.
Dimanakah kemudian negara dalam masalah ini? Bukankah dalam UUD 1945 pasal 34 telah diamanatkan bahwa negara wajib memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Sebuah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan hati nurani yang jujur.
Sedih ya? Katanya negara kita ini kaya sumber daya alam. Minyak kita punya, emas ada, beragam flora dan fauna, dan lain-lain. Dari puncak gunung sampai dasar lautan penuh dengan potensi yang sebetulnya kalau saja dikelola dengan baik tentu mencukupi kebutuhan dasar semua rakyat di negeri ini. Harusnya tidak akan pernah ditemukan (minimal jumlahnya tidak akan sebanyak saat ini) anak-anak yang bekerja bahkan hidup di jalanan.
Bila kenyataannya jauh panggang daripada api, tentu kita bertanya-tanya. Apa yang salah? Kenapa bisa, kita ini ibarat pepatah tikus mati di lumbung padi. Kita miskin di tengah kekayaan alam yang sudah dianugerahkan oleh Yang Maha Pemurah. Tapi, tentu berkutat dalam polemik menentukan siapa pihak yang paling bersalah dalam hal ini tidak akan memberi solusi bagi anak-anak yang bekerja di jalan.
Jangan terlalu berharap kepada pihak lain. Ayo kita bantu anak-anak itu sebisa kita. Kalo kita punya makanan, berikan sedikit makanan kita. Berikan buku dan pakaian layak pakai. Menyisihkan sebagian rejeki ke yayasan yang menaungi dan peduli pada anak jalanan dan juga concern ke masalah-masalah sosial kaum dhuafa.
Membuat berbagai tulisan, baik di media massa melalui kolom surat pembaca misalnya, atau di media sosial, bahkan sekedar menulis di blog tentang semua permasalahan yang dialami oleh anak jalanan. Untuk membuka mata dan mengetuk bilik kalbu, bahwa masih banyak anak negeri ini yang ternyata harus berjuang, berpeluh keringat, berpacu dengan waktu dan deru di jalanan yang keras tak mengenal belas.
Mungkin semua itu tidak seberapa tapi pasti sangat bernilai apalagi kalau kita memberinya disertai dengan hati yang tulus. Jangan lupakan kekuatan doa. Mari berdayakan seluruh potensi yang kita miliki untuk membantu sesama. Ayo, bersama kita bergerak laju menuju Indonesia yang lebih baik.
Semoga anak-anak yang harus bekerja di jalanan itu, diberikan kekuatan untuk keluar dari kondisi mereka sekarang. Semoga ada solusi sehingga mereka tidak harus bekerja di jalan lagi. Semoga kelak mereka ditakdirkan dengan masa depan yang lebih baik... Aamiin...
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Indonesia Move On

Komentar
Posting Komentar