Bukan Sekedar Ingin Dimengerti
Beberapa hari yang lalu, saat suami dan saya berangkat ke kantor naik motor tiba-tiba muncul sebuah motor lain yang menyebrang jalan dengan kecepatan lumayan tinggi. Kagetlah kami (beserta pengendara lainnya) yang berada di jalur tersebut. Untung suami dan yang lain sempat ngerem. Refleks yang mungkin terasah karena sudah biasa dengan lalu lintas yang "ajaib" ibukota.
Suami sempet agak dongkol, cuma saya coba menenangkan. " Udahlah, Bi. Sabar. Itu orang bawa anak-anak. Dua orang lagi."
" Justru itu, Mi. Aku kalo bonceng anak pasti ekstra hati-hati. Gak sradak sruduk.Minta orang yang mengerti untuk mengerem. Lah, gimana kalo kita gak sempet ngerem? Nyeberang koq mendadak dan gak liat kiri kanan lagi," kata suami." Itulah tipikal orang kita. Menjadikan "kelemahan" sebagai alasan untuk dimengerti. Pantas aja kebiasaan "profesi pengemis" menjamur di mana-mana. Kenapa sih kita gak berubah, menjadikan kekuatan untuk bergaining position kita? Bukan sekedar bertumpu pada kelemahan dan meminta orang lain yang mengerti?"
Saya diam tak menjawab. Sepanjang perjalanan, sambil duduk di belakang suami di atas motor tua yang selama ini setia menemani, saya merenungi kata-kata suami saya itu. Suami saya memang tipe pemikir dan logis. Selalu berpikir panjang sebelum bertindak. Contoh kecil dan kongkritnya ya yang dibilang suami saya tadi. Saat suami saya harus pergi membawa anak-anak dengan motor, bahkan walau hanya di seputaran kompleks rumah, ia pasti akan selalu berhati-hati. Ke sekolah anak yang gak jauh dari rumah pun, ia gak berani sradak sruduk. Dan memang selama membonceng suami saya setiap berangkat dan pulang kerja, dia gak pernah asal nyebrang, main salip kendaraan serampangan dan semacamnya.
Dalam diam, saya membenarkan apa yang barusan suami saya sampaikan. Dengan konteks yang lebih luas, selama ini banyak dari kita yang seolah-olah selalu berlindung di balik tameng kelemahan. Kemudian meminta orang lain untuk memahami dan mengerti kelemahannya itu. Bukannya belajar bagaimana mengatasi kelemahan kita tersebut, dan berusaha merubahnya.
Kita terlena dan menikmati "belas kasihan" orang lain atas "kelemahan" kita. Saya juga gak beda. Sering saya inginnya orang yang mengerti saya, bukan sebaliknya.
Padahal, biasanya kita justru lebih simpati, lebih hormat kepada orang-orang yang mau mengerti dibanding kepada yang hanya mau dimengerti.
Meminta orang lain untuk mengerti kita sama saja bilang : buka pikiran dan hati anda untuk memahami saya. Sedangkan mengerti berarti kita berusaha memahami orang lain. Beda ya maknanya? Yang pertama, tidak ada proses berusaha dalam diri kita. Sedangkan yang kedua, butuh kerja keras dan usaha dari diri kita sendiri.
Kenapa mengerti/memahami orang lain itu sulit? Karena kita seolah-olah "dipaksa" untuk membuka cakrawala berpikir kita dan mencoba melihat semuanya dari sisi perpektif orang lain. Memacu otak kita untuk bekerja dengan aturan bahwa hidup ini tidak selalu berputar dan berotasi di sekeliling kita.
Bahwa tidak selamanya apa yang kita anggap benar itu adalah suatu kebenaran. Karena bisa jadi ternyata anggapan kita berasal dari wawasan kita yang mungkin masih kurang. Ibaratnya bagai katak dalam tempurung.
Begitupun, ilmu yang kita rasa sudah sangat mumpuni pada kenyataannya cuma setetes air dibanding luasnya samudera. Kita tidak boleh lupa kalau ada kepentingan orang lain, yang sama-sama punya hak seperti halnya kita.
Dalam suatu artikel yang pernah saya baca, sebagian besar orang masih berpikir hanya pada kepentingannya sendiri (self-directed), dan hanya sedikit yang berusaha untuk mengerti kepentingan orang lain (baca : bersama). Kalo kita mau jujur mengamati, memang begitulah keadaannya. Susah untuk mendapati orang yang mampu mengerti orang lain.
Bagaimana caranya memupuk sikap untuk bisa mengerti orang lain?
Ternyata, sikap untuk mau mengerti orang lain dan menahan keinginan diri untuk menghormati kepentingan bersama itu adalah suatu keterampilan. Keterampilan yang butuh banyak latihan supaya mahir melakukannya.
Bisa dimulai dari belajar untuk memposisikan diri kita sendiri pada keadaan orang lain. Misalnya kita tidak ingin diselak dalam antrian, ya jangan menyelak. Ingin orang lain memberikan tempat duduknya pada saat kita sedang hamil, mari berikan kursi kita kepada ibu lain yang hamil atau membawa anak kecil pada saat kita sehat dan tidak sedang hamil. Sering-sering introspeksi diri. Sudahkah kita menunaikan hak orang lain yang ada pada diri kita?
Hidup itu ibarat menuai apa yang kita semai. Saat kita menyemai perilaku yang tidak pada tempatnya, begitulah nanti yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, kita akan menuai banyak kebaikan pada setiap perbuatan baik yang kita lakukan.
Kata Stephen Covey di bukunya yang legendaris "7 Habits of Highly Effective People" : Seek first to understand, then to be understood. Mengertilah dulu, barulah kita bisa "menuntut" untuk dimengerti ^_^

Komentar
Posting Komentar