Cegah Korupsi Mulai dari Kita Sendiri
Siapa perempuan yang gak mau bisa belanja-belanja sepuas hati? Bisa punya pakaian keren dan modis rancangan Dolce&Gabbana, Burberry, Chanel dll? Punya emas, berlian, permata, shappire dll yang gede? Bisa jalan-jalan saban liburan ke luar negeri dengan akomodasi kelas VVIP? Punya rumah mewah yang bertebaran di tempat-tempat elit? Koleksi mobil seri terbaru dan tercanggih? Dan selanjutnya, dan seterusnya.Saya juga mau :). Tapi, sayangnya kita hidup gak bisa semaunya. Ada batasan-batasan yang gak boleh kita langgar. Nah kaitannya dengan berbagai keinginan yang tadi disebut adalah : sumber uang yang dijadiin alat untuk memenuhi semua hal tersebut. Ada batasan, bahwa kita hanya boleh berbelanja dengan harta yang halal.
Biasanya, kalo kita bukan pengusaha tajir susah untuk memiliki semua daftar barang mewah di atas dengan cara yang wajar. Wajar di sini berarti beli dengan pendapatan kita (entah gaji, keuntungan jualan dll) yang emang jadi hak kita.
Kenapa susah? Iyalah, harga satu baju merk D&G bisa 20jutaan. Itu untuk pakaian casual. Belum yang model resmi seperti gaun pesta.
Jadi kalo ada seseorang yang bukan pengusaha tajir tapi punya mobil mewah, banyak rumah di daerah elit, emas dan berlian yang gak sedikit dll, gak bisa disalahkan kalo akhirnya kita jadi bertanya-tanya dari mana asal uangnya? Jangan-jangan.....
Ah, tapi kan saya dikasih? Wajarkan dengan posisi seperti saya/suami saya banyak dikasih orang? Hari gini, ada orang ngasih sejumlah uang dengan nominal yang fantastis atau barang mewah itu berarti ada udang di balik rempeyek.
Lah iya dong. Masa' mereka mau beramal? Kalo beramal mah ke panti asuhan atau rumah yatim. Ato ke orang-orang miskin yang di negeri ini gak akan sulit ditemui. Tuh di pinggir-pinggir sepanjang jalan, di samping kali, berjejer rumah-rumah yang berhimpitan dan rata-rata penghuninya hidup di bawah garis kemiskinan.
Pemberian dari orang itu bisa masuk ke dalam kategori gratifikasi. Dan jangan salah, ada aturan hukumnya juga lho terkait ini. Kalo gak percaya coba baca di : http://kpk.go.id/gratifikasi/index.php/informasi-gratifikasi/tanya-jawab-gratifikasi . Kalo baca di link itu, bahkan hadiah untuk pernikahan anak dari rekanan udah termasuk gratifikasi. Wuih segitunya? Iyalah :)
Apa sih penyebab terjadinya korupsi? Banyak, salah satunya karena gaya hidup sang istri yang hedonis. Tapi sayangnya, gaya hidup itu tidak diimbangi dengan kemampuan memenuhinya. Analoginya gini, suami mana yang tega lihat istrinya merengek minta tas baru yang harganya puluhan juta? Apalagi dia istri pejabat, harus jaga gengsi kan? Bisa sih beli tas, tapi gak bakal makan sebulan itu. Gak mungkin dong gak makan? Jadilah puter otak, cari cara gimana bisa pat gulipat dapet uang.
Tapi jangankan istri pejabat. Istri-istri pegawai biasa pun kadang suka banyak keinginan tanpa melihat pendapatan yang diterima suaminya. Jadilah, tindak korupsi level bawah "terpaksa" dilakukan untuk memenuhi hasrat sang istri.
Begitu seterusnya. Lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Karena yang namanya keinginan gak akan habis-habis kalo kita selalu menurutinya. Ibaratnya, kita punya segunung emas pun masih pingin gunung emas yang lain.
Oleh karenanya, mari belajar jadi istri-istri yang qona'ah alias ikhlas menerima berapapun pendapatan suami yang halal. Sejuta sebulan alhamdulillah, masih ada yang gak bisa makan rutin tiap hari. Syukur-syukur gaji suami terus naik karena istrinya yang pandai berterima kasih dan mengatur dengan baik ;)
Mari hidupkan sikap kritis kita terhadap harta yang diperoleh suami. Kita harus curiga misal suami masih staf biasa, bisa beliin mobil bagus. Asumsinya : sumber pendapatan cuma satu, gak punya usaha sampingan, gak punya ortu kaya yang bisa dipinjamin, gak dapat hibah ato hadiah quiz yang berhadiah mobil (yang terakhir mah harapan saya :D ). Jangan ketutup seneng sehingga lupa suami dapat uangnya dari mana.
Harta yang halal menjadikan hidup kita tenang dan berokah insya Alloh... Toh kita hidup hanya sebentar. Gimana misalnya kita korupsi dan curang ternyata besoknya Alloh takdirkan kita mati? Belum sempet tobat. Belum sempet kembaliin harta yang kita korupsi tadi ? Na'udzubillah....
Kita mungkin masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya kita mau berusaha menjadi pribadi-pribadi yang bersih dan jujur. Dan itu dimulai dari diri kita sendiri. Butuh waktu? Iya dong. Itu wajar. Tapi mari mulai sekarang juga. Smoga Alloh Yang Maha Bijaksana memberikan kita petunjuk dan pertolongan-Nya kepada kita semua, aamiin...
Komentar
Posting Komentar