(CERPEN) Setinggi Bintang di Langit

Teng!Teng! Bunyi bel tanda jam sekolah telah berakhir berdenting, suaranya keras terdengar sampai ke kelas Aida yang berada di ujung koridor sekolah. Bergegas Aida membereskan buku-buku dan memasukkan ke dalam tasnya. Tas kain yang sudah memudar warnanya, sehingga sulit dibedakan apakah itu krem ataukah putih tulang. Jahitan bekas menambal sobekan tampak menghiasi sisi-sisinya.
Setelah semuanya telah rapi masuk tas, Aida kemudian melangkah keluar dari kelasnya. Ia ingin secepatnya sampai di rumah. Damar, adik laki-laki yang beda usianya terpaut 5 tahun dengan dirinya pasti telah menunggung-nunggu kedatangannya. Tak ingin membuang waktu lebih banyak, Aida menggegas langkahnya dengan berlari-lari kecil. 
"Damar, Damar... sini sayang, kakak pulang," Aida berteriak memanggil-manggil adiknya, sambil membuka sepatu butut dan kaos kakinya yang berlubang diujung jempol. Kemudian dengan hati-hati ia simpan sepatunya itu di pojok teras depan rumah mereka.
Damar terlihat berlari menuju Aida dengan senyum lebar, senang karena akhirnya ia tidak sendirian di rumah mungil itu. Badan kurusnya hanya terbalut kaos oblong usang dan celana pendek selutut.Mulutnya berlepotan donat yang tadi pagi sengaja Aida sisihkan untuk adiknya. 
“Kakak...”, Damar bergayut manja di pelukan kakaknya.
“Damar, sini sayang, kakak punya sesuatu untuk Damar,” Aida mengeluarkan sebuah mobil-mobilan kecil dari plastik yang tadi ia beli di warung depan sekolahnya seharga Rp. 1.000. Damar langsung menyambar mainan itu dengan muka ceria. Untuk Damar mainan plastik murah itu sangat berharga. Aida tersenyum senang melihat keceriaan adiknya. Kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaan dirinya juga. Walaupun kebahagiaan itu hanya sebentuk mainan sederhana.
“Habis ini, kita pergi ke stasiun ya,” kata Aida sambil menyiapkan satu bungkusan besar yang berisi bernacam-macam makanan kecil dan jajanan. Tak lupa ia siapkan satu set perlengkapan sholatnya dan pakaian ganti untuk Damar.
Seperti biasa, sepulangnya Aida dari sekolah,ia dan adiknya berangkat menuju Stasiun Kranji, tempat mereka berjualan , menjajakan berbagai makanan kecil yang mereka bawa. Mereka sudah beberapa tahun ini berjualan sejak ayah mereka meninggal dunia akibat jatuh dari ketinggian konstruksi gedung lantai 9 yang sedang dikerjakannya. Saat itu ia sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Dan matahari tengah terik-terik bersinar, sehingga menyilaukan pandangan matanya yang memang sudah mulai berkunang-kunang akibat badannya yang sedang meriang sejak pagi. Upah yang diterima ibu mereka, yang berprofesi sebagai tukang cuci dan setrika tentu tidak bisa menutupi semua kebutuhanmereka sehari-hari, sehingga akhirnya Aida dan adiknya ikut turun tangan mencari nafkah di usia mereka yang masih terbilang di bawah umur.
Bergandengan tangan, Aida dan Damar berjalan sambil bersenandung ke stasiun yang jaraknya sekitar 1 km dari rumahnya.Jarak yang lumayan melelahkan apabila ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi mereka sudah terbiasa berjalan kaki hampir kemana pun mereka pergi. Jadi jarak sejauh itu bukan masalah besar bagi mereka berdua.
Stasiun Kranji, merupakan salah satu stasiun kereta yang ada di kota Bekasi ini. Stasiunnya sendiri tidak terlalu besar,tapi memiliki pelataran parkir yang cukup besar. Biasanya pelataran parkir ini digunakan oleh para pedagang menggelar barang dagangannya. Dari pakaian murah meriah dengan aneka model untuk berbagai lapis usia, barang-barang sehari-hari seperti panci, piring dan sejenisnya, sampai aneka lapak makanan dan lain-lain. Walaupun ramai, tapi suasananya lumayan rapi sehingga masih ada celah yang cukup bagi pengunjung stasiun untuk berjalan. Letaknya strategis dan merupakan stasiun pertama tempat kereta berhenti dari arah Jakarta.
Sesampai di stasiun, Aida dan Damar segera menuju ke tempat mereka biasa berjualan dekat tempat duduk di peron stasiun yang sederhana tapi cukup rapi itu. Aida sudah mengenal penjaga stasiun sehingga mereka bisa bebas berjualan asalkan tidak membuat kotor stasiun. Syarat yang tentu saja Aida sanggupi karena semiskin-miskinnya mereka, ibunya selalu berpesan untuk selalu menahan diri untuk berbuat zhalim terhadap sekitarnya, dan dalam praktek tentu termasuk menjaga diri dari mengotori lingkungan sekitar. Ibu Aida memang sosok yang tegar,dan punya prinsip yang ia pegang denga teguh. Sosok perempuan tangguh yang hampirtidak pernah mengeluh. Sepanjang hidupnya, Aida tidak pernah mendapati ibunya menangis kecuali saat ayah mereka meninggal dunia beberapa tahun yang lalu itu.
Siang itu, stasiun Kranji cukup ramai. Lalul alang orang yang keluar ataupun masuk kereta tampak menghiasi peron yang tidak terlalu luas. Aida duduk menggelar lapak jualannya, sedangkan Damar asyik bermain mobil-mobilan yang tadi Aida belikan di dekatnya. Damar selalu senang dengan situasi stasiun, dengan kereta dan berbagai macam orang-orangnya. Karenanya saat ia harus memilih, ikut ibunya yang mencuci di rumah-rumah penghuni komplekperumahan sebelah kampung mereka atau ikut Aida berjualan, Damar memilih ke stasiun bersama Aida. 
Karena suasana stasiun yang selalu ramai serta penuh dengan orang dan kereta, Aida selalu berpesan agar Damar tidak bermain terlalu jauh dari tempat ia berada. Damar anak yang penurut dan cerdas, jadi ia akan selalu bermain dekat kakaknya berjualan. Ia sangat menyayangi kakak perempuan satu-satunya itu, dan ia tidak ingin membuat hati kakaknya yang ia sayangi menjadi khawatir.
Walaupun stasiun selalu ramai pengunjung, tapi tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pembeli makanan kecil Aida. Seperti pedagang pada umumnya, Aida pun mengalami pasang surut penjualan. Kadang, ia bisa mengantongi uang sejumlah Rp. 50.000, tapi bisa jadi hari lain ia tidak mendapat sepeser pun. Namun demikian, Aida tidak pernah putus asa. Ia selalu yakin bahwa sepanjang ia mau berusaha, Allah pasti akan memberikan rezeki kepadanya. 
Saat menunggu dagangannya, ia mengawasi Damar bermain dan sesekali mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah atau membaca-baca kembali pelajaran yang ia terima hari itu di sekolah. Bagi Aida waktu begitu berharga untuk terbuang begitu saja.
“Dik, beli permen Hexosnya satu ya,”tiba-tiba suara berat seorang bapak separuh baya mengusik keasyikan Aida mengawasi adiknya. Bergegas Aida mengambil dan menyerahkan satu bungkus permen yang dipesan sang bapak. Bapak itu mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dan menyerahkan kepada Aida.
“Tidak usah kembali, Dik,” kata sang bapak, saat Aida akan menyerahkan sejumlah uang kembalian. 
“Terima kasih banyak, Pak,” Aida tersenyum senang. Berarti hari ini bertambah lagi celengannya, batinnya bersyukur. Uang kembalian tadi , Rp. 8.500 cukup besar artinya untuk Aida dan keluarganya. 
Sang bapak pun melangkah pergi membawa sebungkus permen di tangannya. Tak lama kemudian, dari kejauhan lamat-lamat terdengar suara adzan Ashar berkumandang. Segera Aida membereskan barang dagangannya. Adzan Ashar adalah tanda bahwa ia dan Damar harus segera pulang, sebelum gelap malam menyergap. Kemudian ia gandeng adiknya menghampiri mushola dekat stasiun. Sudah merupakan rutinitas, ia dan adiknya akan sholat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Sholat merupakan wasiat dari ayahnya yang tidak boleh ia tinggalkan. Ia ingin ayahnya bahagia di alam sana. Dan ia yakin, kalau ia berusaha menjadi anak yang baik dan berbakti tentu ayahnya pun akan mendapat aliran pahalanya.
Sore itu, tidak ada yang istimewa bila dibanding sore-sore sebelumnya, hanya saja kali ini ia melihat ada banyak spanduk kecil yang disangkutkan di pohon-pohon di pinggir jalan atau di dinding-dinding pagar. Tadi ia berhenti untuk membaca isinya. Ternyata spanduk untuk meminta dukungan untuk menjadi wakil rakyat dalam pesta rakyat yang beberapa bulan lagi akan dilangsungkan. Ia mengetahuinya dari Bu Rani, guru PKN di sekolahnya kemarin. Dalam pikiran sederhana Aida, wakil rakyat itu wakil semua rakyat di negeri ini tanpa terkecuali.
Tapi bagi Aida, orang-orang di spanduk tersbut terasa begitu tinggi untuk dapat dijangkau orang kecil seperti dirinya. Karena sepanjang ingatannya, belum pernah ada orang yang peduli kepadanya dan keluarganya, kecuali beberapa orang-orang tulus yang ia temui di sepanjang usianya yang menginjak 10 tahun ini, seperti Ustadzah Aisyah, guru TPAnya yang setiap malam mengajarkan anak-anak di kampung di rumahnya bersama dengan suaminya, Ustadz Muhammad. Atau Bu Santi, salah satu majikan ibunya yang rajin memberikan sebagian sayurdan lauk pauk untuk keluarga Aida.
Wakil rakyat itu pemimpin juga. Begitu yang Bu Rani sampaikan kemarin. Dalam pikiran polosnya, tentu bekerja sebagai wakil rakyat adalah pekerjaan yang sangat berat karena berarti ia harus mengurusi semua rakyat. Mungkin mereka malah hampir tidak akan sempat memikirkan urusan pribadinya. Seperti kisah Umar bin Khattab yang diceritakan Ustadzah Aisyah suatu hari saat ia mengaji, seperti kisah Umar bin Abdul Aziz cicit sang Umar sahabat tercinta Rasulullah. Mereka sosok-sosok pemimpin besar yang sangat sederhana kehidupannya walaupun rakyatnya luas membentang dari si paling kaya sampai miskin papa seperti Aida. Kalau memang pemimpin seperti itu, tentu ia dan adiknya tidak perlu bekerja membanting tulang untuk membantu nafkah keluarga. Akankah mereka yang gambarnya terpampang itu akan seperti yang ustadzah sampaikan? 
Semburat lembayung jingga senja mulai membayang di penghujung langit. Bayang rumah mungilnya pun sudah terlihat , Damar yang berjalan pelan di sampingnya tampak kelelahan karena asyik bermain seharian tadi dan berjalan. Habis ini ia harus memandikan Damar, membersihkan dirinya sendiri,lalu kemudian sholat maghrib bersama ibunya, mengaji ke rumah ustadzah Aisyah dan Ustadz Muhammad bersama Damar, lalu kemudian makan bersama dengan lauk atau sayur yang dibawa oleh ibunya dari salah satu majikan atau sayuran sederhana masakan ibunya sendiri. 
Hidup Aida begitu sederhana. Rutinitas yang hampir sama setiap harinya. Bosankan ia? Tidak, sepanjang hidupnya ia akan terus berusaha. Aida memang terlihat lebih dewasa dengan sikapnya yang penuh pertimbangan dibanding anak-anak seusianya. Keadaan membuat dirinya dan adiknya harus dewasa sebelum waktunya. Tapi ia berusaha untuk tidak mengeluh, seperti yang selama ini dicontohkan ibunya yang tegar. Jalannya masih panjang, dan selama itu pula ia akan terus berusaha untuk memperbaiki nasib dirinya dan keluarga tercintanya.

Mengejar matahari, merajut benang-benang asa masa depan. Menautkan segala harap dan cita-cita setinggi bintang di langit. Aida yakin, Allah Maha Melihat. Sepanjang ia tak lepas berharap hanya kepada-Nya dan berusaha sekuat tenaga, akan selalu ada jalan bagi diri dan keluarganya.

Hidup ibarat roda. Mungkin sekarang ia berada di titik terendah putaran, tapi siapalah yang dapat menghalagi kalau suatu saat takdir berkata bahwa roda kehidupannya harus bergerak naik. Insya Allah....

Komentar

Postingan Populer