SEPENGGAL KISAH HATI

Apa yang di benak kita saat mendengar kata poligami? Atau lebih spesifik, apa yang ada dalam benak seorang perempuan ketika ada laki-laki ingin berpoligami, terlebih dia perempuan yang sudah bersuami dan laki-laki itu adalah suaminya? Tentu jawabannya macam-macam. Dengan alasan yang beragam pula.

Di sini, saya tidak berminat dan tidak bermaksud untuk mengupas tentang poligami (yang memang dibolehkan dan merupakan syariat agama). Selain karena takut salah (bukan ahli fiqh :D ) juga karena menurut saya bukan poligaminya yang harus dibedah (karena udah jelas hukumnya), tapi perilaku sang pelaku dan orang-orang yang terkena imbas dari poligami tersebut yang harusnya dibahas.

Saya hanya ingin memberikan suatu contoh ketegaran seorang istri yang dimadu oleh suaminya. Ini kisah nyata. Saya kenal betul dengan sosok yang hebat ini. Kita sebut saja beliau Melati.

Melati adalah seorang istri dari laki-laki satu kampungnya (sebut saja laki-laki itu : Kumbang). Melati dan Kumbang menikah karena dijodohkan oleh orangtua mereka. Awalnya Kumbang menolak, tapi orang tua Kumbang tetap memaksanya dengan alasan menguatkan ikatan kekerabatan (mereka memang saudara jauh). Dan akhirnya menikahlah mereka hingga dikaruniai 5 anak. Seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, semakin menanjak pula karir Kumbang. Ia menjadi seorang pejabat di kantornya. Kumbang memang terkenal cerdas dan pintar bergaul.

Suatu hari, saat Kumbang sedang melakukan rutinitasnya bermain tenis lapangan, ia bertemu seorang gadis belia. Entah apakah memang si gadis (Mawar) sudah mengincar Kumbang atau karena kebetulan, akhirnya mereka berkenalan.

Perkenalan mereka, berlanjut menjadi pertemanan. Mawar (yang waktu itu baru lulus SMA) gadis yang cantik dan enak diajak ngobrol. Setiap Kumbang bermain tenis hampir bisa dipastikan ada Mawar disana. Akhirnya tumbuhlah benih-benih suka di antara keduanya.

Mawar waktu itu sudah mengetahui bahwa Kumbang sudah beristri dan mempunyaianak. Tapi, entah kenapa ia tidak perduli. Ia tetap menjalin hubungan dengan Kumbang, yang sebetulnya usianya hampir 2 kali lipat dari dirinya.

Akhirnya, karena desakan Mawar, Kumbang pun menikahinya. Melati yang mengetahui hal ini tentu hancur hatinya. Tapi, ia adalah seorang perempuan yang sangat patuh pada suaminya. Ia pun sangat mencintai suaminya itu. Jadi, ia tidak bisa berkata apa-apa selain menyetujui pernikahan kedua suaminya itu.

Sayangnya, ibarat air susu dibalas air tuba, keikhlasan hati Melati tidak diimbangi dengan perilaku baik dari Kumbang dan Mawar. Mawar,yang lebih muda dan cantik merasa berhak menguasai sebagian besar diri Kumbang, termasuk dalam hal nafkah.

Kumbang yang pada dasarnya tidak terlalu cinta pada Melati, tidak bisa memposisikan dirinya untuk bersikap adil di antara kedua istrinya. Mungkin ia khilaf atau buta karena cinta.

Dari nafkah yang akhirnya diambil hampirseluruhnya untuk Mawar, sampai perlakuan kasar diterima Melati. Kumbang pun tidak terlalu perduli lagi kepada anak-anaknya.

Untungnya Melati punya penghasilan sendiri walau tidak seberapa. Orang tua Melati berasal dari keluarga pedagang yang sukses. Dan saat keduanya wafat, Melati mendapat warisan yang lumayan banyak berupa rumah (yang ia tempati bersama anak-anaknya),  beberapa petak sawah dan sebidang kebun kelapa. Jadi, tanpa nafkah yang cukup, ia bisa tetap hidup bersama anak-anaknya.

Walaupun diperlakukan tidak adil, Melati tetap tegar. Ia bukannya tidak pernah menangis. Beban hatinya tentu sungguh berat ia rasakan. Tapi hampir tidak pernah terdengar ia mengeluh bahkan kepada anak-anaknya.

Saat ditanya kenapa ia bisa bertahan, ia menjawab bahwa anak-anaknya lah yang memotivasi dirinya. Ia punya tugas untuk mendidik mereka sebaik-baiknya, mengajarkan agar mereka tetap menghormati ayah mereka, terlepas dari perlakuannya yang tidak adil itu. Bahkan saat mereka menganjurkan agar Melati berpisah dengan Kumbang, Melati menolaknya.

Dan akhirnya anak-anak itu pun beranjak dewasa.Berkat doa dan didikan Melati, mereka telah menjadi orang-orang yang cukup mapan dalam kehidupan mereka masing-masing.

Kisah hidup Melati menjadi cermin untuk saya pribadi. Kalau saya ada di posisinya, sanggupkah saya bersikap seperti dia? Bertahan tanpa banyak mengeluh?

Kita tidak tau apa takdir apa yang akan menanti kita di depan. Begitu pun saya. Dan saya hanya bisa berharap, semoga para pelaku poligami bisa memahami apa yang dilakukannya terlebih dahulu. Memperbanyak ilmu tentangnya. Supaya tidak ada lagi Melati-Melati lain….


Komentar

Postingan Populer