(CERBER) Pelangi di Hati Naya (Bag 4)

Naya menatap seraut wajah oval di depan cermin besar di depannya. Mata bulatnya yang indah, hidungnya yang bangir, bibir tipis merah yang merekah. Wajah cantik yang hari ini lebih terlihat bersinar.  Tubuh rampingnya terbalut kebaya Jawa klasik yang elegan berwarna broken white menyiratkan aura kecantikan alami seorang pengantin wanita muda.

Hari ini, statusnya akan segera berubah menjadi Nyonya Adrian Prasodjo. Berarti tak lama lagi ia harus menjalani peran baru sebagai seorang istri. Sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah terlintas di benaknya. Naya memang selalu menanamkan dalam pikirannya, bahwa menikah merupakah prioritas kesekian setelah keluarga dan impiannya.

Tadinya, ia ingin berbakti kepada orang tuanya lebih dahulu dengan membesarkan perusahaan, setelah itu ia ingin menggapai mimpinya selama ini, dan terakhir mungkin menikah. Tapi, seringkali memang kenyataan tidak selamanya seperti yang direncanakan. Dan, ia dengan sekuat hatinya akan berusaha menjalani takdirnya.

Beberapa jam dari sekarang, seorang laki-laki asing yang baru dikenalnya selama 6 bulan terakhir ini akan berkuasa penuh atas dirinya. Di atas bahunya dan genggaman tangannya, sebagian hak, kewajiban dan tanggung jawab atas Naya yang selama ini melekat pada orang tuanya akan berpindah. Naya berharap semoga ia bisa menjalani kehidupan barunya kelak dengan baik.

Rangkaian prosesi pernikahan sudah dimulai sejak semalam, yaitu Malam Midodareni. Suatu prosesi yang begitu kental dengan nuansa budaya Jawa.

“Naya, kita berangkat sekarang, Sayang,” tiba-tiba ibunya datang menghampiri Naya. Tangannya lembut menuntun Naya.

“Ya, Ma,”pikiran Naya yang sempat melangut ke sana ke mari, kembali lagi pada kesadarannya. Bergegas ia menyambut uluran tangan ibunya.

Kemudian mereka berjalan dalam hening menuju mobil yang akan membawa mereka bersama ayah Naya ke masjid tempat akad nikah akan dilangsungkan. Rencananya setelah akad nikah, akan dilanjutkan dengan acara resepsi di gedung dekat masjid berada.

Saat melihat Naya, ayahnya tidak kuasa menahan tangisnya. Ia langsung menghampiri Naya dan merengkuhnya dalam pelukan. Laki-laki yang selama ini dikenal tegas dan berwibawa ternyata hari itu menunjukkan bahwa ia hanyalah manusia biasa yang mampu mengeluarkan air mata.

“Papa bangga sama kamu, Naya. Papa berharap semoga pernikahan ini adalah yang terbaik untukmu. Papa sudah tua, tenaga papa sudah berkurang untuk melindungimu. Dan sekarang akan ada laki-laki yang papa yakin bisa menggantikan posisi papa. Tapi, satu hal yang tidak akan pernah berubah, Naya. Papa sayang kamu, Nak.”

Luluh hati Naya mendengar kata-kata ayahnya yang sangat ia sayangi itu. Naya dapat merasakan betapa besar rasa sayang ayahnya kepada dirinya, walau selama ini ditunjukkan dengan caranya sendiri.

Segera dihapusnya air mata yang jatuh menetes. Ia tersenyum kepada ayahnya. Tak sanggup berkata-kata untuk mengungkap semua rasa di hatinya. Tapi, Naya tahu ayahnya pasti sudah mengerti isi hatinya saat ini.

“Ayo, kita berangkat. Jangan sampai Pak Penghulu dan Adrian menunggu kita terlalu lama,” lanjut ayahnya. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju mobil pengantin yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga cantik.

Tidak ada percakapan yang tercipta di sepanjang perjalanan menuju masjid. Seakan sunyi mewakili  apapun yang saat itu sedang berkecamuk di hati setiap orang di mobil itu. Ayah Naya duduk membisu di samping sopir yang berkonsentrasi menyetir membelah kepadatan lalu lintas Jakarta. Sedangkan  Naya dan ibunya seakan menikmati suasana senyap itu dan asyik berdialog dengan pikiran mereka sendiri. Di belakang mobil yang mereka tumpangi, tampak beberapa mobil lain berisi kerabat dekat Naya mengiringi.

Sesampainya di pelataran masjid, rombongan kecil Naya disambut panitia acara. Karena penghulu sudah menunggu, tidak lama kemudian akad nikah pun dilangsungkan.

Suasana khidmad dan magis menyelimuti acara akad nikah. Ayah Naya bertindak sebagai wali Naya mengucapkan ijabnya. Disambung dengan Adrian dengan pernyataan qabulnya menerima Naya menjadi istri, belahan jiwa, dan seseorang yang akan menjadi pendamping seumur hidupnya. Gerimis hati Naya mendengar itu semua, rintik haru membasahi relung kalbunya yang paling dalam. Berkecamuk rasa karena menyadari bahwa statusnya telah berubah. Ia sekarang telah menjadi seorang istri untuk Adrian. Ia sekarang adalah Nyonya Adrian Bagaskara Prasodjo.

Setelahnya, resepsi dilangsungkan tak jauh dari masjid tempat akad nikah. Acara berjalan dengan lancar. Megah dan mewah. Ribuan tamu mengalir tak henti-henti. Beraneka ragam jenis sajian terhidang tak habis-habis, memanjakan para undangan untuk menikmatinya. Suasana begitu meriah. Sedangkan Naya dan Adrian yang didampingi orang tua masing-masing, terlihat bagaikan sepasang raja dan ratu ditengah gemerlapnya acara. 

Saat semua rangkaian acara selesai, Naya dan suaminya pergi menuju hotel berbintang lima yang memang khusus dipesan untuk malam pengantin mereka. Sesampainya di hotel, sebetulnya Naya ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk tempat tidur berukuran King Size di dalam kamar itu.

Sekujur tubuh Naya serasa ditusuk-tusuk hingga ke tulang. Rasa lelah yang amat sangat menyelimuti dirinya. Rangkaian acara seharian tadi benar-benar menguras seluruh energinya. Seakan menghisap habis, semua cadangan tenaganya.

Tapi malam belum  lagi berakhir. Ia adalah seorang istri sekarang. Dan Naya sadar, ia tidak bisa lagi berbuat sekehendak hatinya sendiri. Mulai malam ini, kewajibannya sebagai seorang istri akan dimulai. Jadi Naya pasrah, menunggu apa yang akan dilakukan Adrian kepada dirinya.

Untungnya Adrian adalah lelaki bijaksana. Selama ini, ia dikenal karena kesabarannya. Jadi, saat melihat raut muka Naya yang begitu kelelahan, ia memutuskan agar mereka segera beristirahat. Waktu mereka masih panjang. Masih banyak kesempatan untukmenunaikan kewajiban mereka sebagai suami istri. Dan, malam itu pun akhirnya dilalui keduanya dengan tidur panjang yang lelap.

Rencananya setelah malam itu, keesokannya dengan penerbangan pertama, mereka akan segera bertolak ke Lombok sebagai tujuan pertama bulan madu. Setelah itu Kepulauan Raja Ampat di Papua sudah menunggu mereka.

****

Bulan madu yang mereka lalui selama 2 minggu itu begitu indah Naya rasakan. Ia merasa diperlakukan bagaikan seorang putri  oleh Adrian. Adrian memang menuruti semua kemauan istrinya.

Naya ingat pada kenangan malam pertama bulan madu mereka di sebuah villa di depan Pantai Sire Medana. Saat malam mulai menampakkan diri mengganti senja yang mulai berangkat ke peraduannya, Naya dan Adrian sedang duduk berdua di beranda villa yang menghadap langsung ke pantai. Mereka berbicara lepas tentang apa saja. Tak sadar, karena terbawa suasana santai Naya mengungkapkan semua impiannya kepada Adrian.

Ia ungkapkan betapa inginnya ia menjadi seorang jurnalis. Bebas berkelana ke penjuru dunia. Menekuri setiap negeri dan kotanya. Melihat dari dekat kehidupan masyarakatnya untuk kemudian menuliskan apa yang ia lihat dan alami. Tidak harus sebagai seorang jurnalis resmi. Tapi mungkin sebagai seorang kontributor lepas.

Adrian mendengarkan semua perkataan Naya dengan seksama. Tak sedikit pun ia memotong istrinya yang begitu bersemangat mencurahkan semua isi hatinya. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Tatapan matanya terlihat penuh cinta kepada istrinya.

Saat Naya selesai mencurahkan semua isi hatinya, barulah Adrian menjawab. Ia katakan bahwa ia merekam jelas semua kata-kata Naya dalam memori kepalanya. Karena suatu saat ia ingin mewujudkan semua impian istrinya itu. Betapa berbunga-bunga hati Naya mendengar jawaban suaminya.

Naya pun masih ingat ketika ia menanyakan kepada Adrian alasannya menikahi Naya. Adrian mengungkapkan secara jujur pada Naya bahwa sebetulnya dirinya bukanlah tipe orang yang percaya pada cinta dalam pandangan pertama. Tapi, entah mengapa, hati Adrian langsung tertarik saat ayahnya menyodorkan selembar foto bergambar Naya. Bukan semata karena wajahnya yang cantik, tapi ada sesuatu dalam diri Naya yangmembuat Adrian bersedia untuk mengikuti saran ayahnya. Menikah dengan putri satu-satunya sahabat ayahnya itu.

Hati Adrian semakin mantap saat ia bersama kedua orang tuanya bertemu Naya untuk pertama kalinya. Menurut Adrian, Naya berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini ia kenal. Walaupun mereka cantik, tapi ia tidak pernah merasa ada ketertarikan pada satu pun di antara mereka.

Selama ini, banyak wanita yang mengejar-ngejar dirinya. Bagaimana tidak? Dengan sederet kelebihanyang Adrian miliki cukup membuatnya masuk dalam daftar bujangan paling dicaridi Jakarta. Ia tampan, muda, sukses.

Berbeda saat ia melihat Naya. Ia memang tidak serta merta jatuh cinta pada Naya, tapi ada satu keyakinan dalam hatinya bahwa Nayalah sosok wanita yang selama ini ia cari-cari. Sosok yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Terdengar klise memang. Tapi itulah kenyataan yang Adrian rasakan.

Naya pun tidak sama dengani kebanyakan wanita yang Adrian kenal. Tidak hanya cantik, tapi Naya pun mempunyai prinsip. Tidak banyak berbicara tapi sangat cerdas. Dari pertemuan pertamanya itu, Adrian mendapat kesan bahwa Naya sepertinya adalah seorang wanita yang setia. Sesuatu yang sulit dicari pada masa kini.

Semua penuturan suaminya itu, membuat Naya tersipu-sipu. Hatinya membumbung tinggi ke angkasa.  Pipinya bersemu merah. Dan akhirnya malam itupun menjadi saksi bahwa tidak ada lagi batas antara dirinya dan suaminya. Malam itu ia telah sempurna menunaikan salah satu kewajibannya sebagai seorang istri.

*****

2 minggu selanjutnya berlalu begitu cepat. Hari-hari bahagia yang selama ini tidak pernah Naya bayangkan ternyata nyata ia rasakan. Bersama Adrian, ia menikmati keindahan Pantai Sire Medana, mengeksplorasi dan berpetualang di eksotisme perairan Raja Ampat.

Seminggu pertama mereka habiskan di sebuah villa di Lombok Utara yang menghadap langsung ke arah pantai. Villa dengan dekorasi yang menawan dan suasana alam terbuka yang begitu indah memanjakan Naya dan Adrian.

Hamparan pasir putih membentang di sepanjang pantai dengan air laut yang begitu jernih. Pemandangan matahari yang perlahan terbit di sebelah timur dengan semburat sinar keemasan yang menyinari sebagian puncak Gunung Rinjani, sungguh suatu pengalaman luar biasa yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Minggu selanjutnya, mereka habiskan dengan petualangan di Kepulauan Raja Ampat, Papua. Kepulauan ini merupakan salah satu tempat yang sudah begitu terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Dan merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk menyelam di seluruh dunia. 

Flora dan fauna bawah lautnya begitu lengkap dan beragam. Ditambah lagi kawasan terumbu karangnya yang masih terjaga kelestariannya. Sebut saja Cape Kri. Saat Adrian dan Naya menyelam di wilayah itu, hingga ratusan ikan kecil mengelilingi mereka.

Ketika akhirnya bulan madu mereka harus berakhir, ada kesedihan menyelinap di hati Naya. Ia masih ingin menikmati masa-masa indah ini lebih lama. Tapi, ia sadar kalau Adrian dan dirinya punya kewajiban lain yang harus mereka lakukan. Pekerjaan mereka di kantor.

Dari awal,Naya memang mengajukan satu syarat kepada Adrian sebelum mereka menikah. Walaupun nanti ia telah resmi menjadi seorang istri, Ia ingin tetap bekerja seperti biasa. Karena bagi Naya meneruskan usaha  ayahnya memajukan perusahaan yang telah susah payah dirintis merupakan salah satu bentuk baktinya kepada orang tua.

Ia anak satu-satunya, jadi pasti hanya kepadanyalah tongkat estafet kepemimpinan perusahaan kelak akan diserahkan. Tentu saja Adrian tidak keberatan, asalkan Naya tetap bisa mengatur dan membagi waktunya antara kerja dan keluarga.

Naya tidakmenyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan Adrian kepadanya. Jadi ia berusaha sekuat tenaganya menyeimbangkan pekerjaan dan kewajibannya sebagai istri. Sejauh ini, Naya berhasil.

*****

Tidak terasa hampir 3 bulan, Adrian dan Naya menjalani hari-hari mereka sebagai pasangan suami istri. Benih-benih cinta yang mulai tumbuh terasa hangat menyelimuti mereka. 

Adrian memang pandai mengambil hati Naya. Ada saja kejutan-kejutan kecil yang  yang ia berikan untuk istrinya itu. Kartu kecil berbentuk hati warna merah jambu yang ia tulisi dengan kata-kata manis dilipatan pakaian Naya. Atau seikat mawar ungu, bunga kesukaan Naya, yang dikirimke kantor Naya pada jam-jam kantor. Pesan singkat di ponsel saat jam istirahat yang mengingatkan Naya untuk makan siang. Serta makan malam bersama yang rutin mereka lakukan setiap akhir pekan.

Naya merasa sangat tersanjung dengan perlakukan manis Adrian. Jadi ia berusaha mengimbanginya dengan perhatian untuk Adrian. 

Ia yang mempersiapkan seluruh kebutuhan pribadi Adrian, dari keperluan mandinya sampai pakaian kerja yang akan dipakai. Ia pun menyempatkan diri memasak setiap hari untuk sarapan dan makan siang mereka di kantor.

Jadi, begitu bangun di subuh hari Naya sudah berada di dapurnya yang nyaman. Dapur yang tidak terlalu mewah tetapi lengkap. Ia sibuk merajang, menggoreng dan lain sebagainya. Mereka hanya punya satu pembantu rumah tangga, yang bertugas membersihkan dan mengurusi seluruh pekerjaan rumah tangga lainnya di rumah itu. Karena Adrian dan Naya bukan tipe yang manja dan selalu ingin dilayani, mereka selalu berusaha mengerjakan apa yang bisa mereka lakukan sendiri.

Rumah mereka tidak terlalu besar tapi cukup luas untuk keluarga kecil. Rumah itu merupakan hadiah pernikahan dari ayah Adrian. Dekorasi hampir semua ruangan dikerjakan oleh Naya dan Adrian. Dari memilih cat,furniture, sampai pernak pernik lainnya. Sehingga rumah mereka itu terasa sekali sentuhan hangatnya. Mereka memang ingin, saat kembali selepas pena tbekerja seharian, rumah menjadi sarang cinta mereka untuk merajut benang-benang asa masa depan.

Pagi itu, Naya memasak menu spesial untuk makan siang Adrian dan dirinya. Ia memang punya kejutan Adrian. Sebuah kabar bahagia yang ia yakin Adrian pasti akan senang mendengarnya. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir menjelang akhir pekan. Jadi sesuai kebiasaan, Adrian akan mengajak Naya makan malam dia luar. Pada saat itulah rencananya ia akan mengabarkan berita itu kepada Adrian.

Saat Naya sedang menata dan mempersiapkan sarapan dan makan siang, tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya.

“Hmmm...masak apa, Sayang? Harum sekali aromanya. Mas jadi lapar nih,” Adrian menyapa lembut istrinya sambil mengecup pelan pipi Naya. Walaupun itu hal yang biasa Adrian lakukan, Naya selalu tersipu dibuatnya. Ia kemudian duduk di samping istrinya. Tangannya mengambil setangkup roti dalam piring besar di depannya.

“Ini masakan spesial khusus untuk makan siang Mas,” jawab Naya tersenyum manis.

“Spesial? Apa ada sesuatu yang khusus?” tanya Adrian.

“Itu rahasia.Nanti malam aku punya kabar gembira untuk Mas,” Naya menatap suaminya.

“Wah, Mas jadi nggak sabar. Nanti sore, Mas jemput kamu di kantor ya. Kita makan malam ditempat biasa,”kata  Adrian. Mulutnya tak henti menguyah roti yang disiapkan Naya untuk sarapan mereka.

“Iya, Mas,”jawab Naya sambil menuangkan segelas jus jeruk ke dalam gelas untuk Adrian. Lalu menuangkan ke gelas lain untuk dirinya sendiri.

Selesai sarapan, mereka berdua berjalan menuju mobil mereka masing-masing. Adrian dan Naya mengendarai mobil yang berbeda dengan alasan efektivitas dan efisiensi waktu. Selain karena jalur mereka yang tidak sejalan, juga  karena tingkat mobilitas keduanya yang sama-sama tinggi.

Malam itu, Adrian memenuhi janjinya menjemput Naya. Makan malam ini spesial bagi keduanya karena Naya akan mengabarkan suatu berita bahagia. Dan untukmalam yang spesial itu, Adrian mengajak Naya makan di restoran istimewa pula. 

Restoran yang sering dikunjungi kaum elit Jakarta. Yang butuh reservasi berhari-hari sebelumnya untuk bisa makan di sana. Kebetulan pemilik restoran itu adalah kawan lama Adrian di SMA. Jadi Adrian bisa mendapat tempat khusus malam itu tanpa kesulitan.

Adrian dan Naya memasuki restoran elit itu diantar seorang pelayan restoran menuju meja mereka yang sudah disiapkan. Tiba-tiba dari arah berseberangan, seorang perempuan dengan dandanan muktahir mendatangi mereka. Tubuhnya tinggi langsing berbalut busana mewah rancangan desainer terkemuka. Wajahnya luar biasa cantik. Dibandingkan dengan perempuan di hadapannya itu, Naya merasa tidak ada apa-apanya.

“Hello, Adrian honey. Apa kabar? Sudah lama ya, sejak pertemuan terakhir kita yang istimewa itu?” kata perempuan cantik itu tersenyum. Di mata Naya senyum itu seperti dibuat-buat.

“Apa kabar, Sandra. Sungguh tidak disangka kita bertemu di sini. Oh, ya perkenalkan ini istriku, Naya,” Adrian menggamit tangan Naya lembut, menarik Naya untuk berdiri di sampingnya. Sejak Sandra menghampiri mereka, Naya beringsut-ingsut memposisikan dirinya di belakang Adrian. Entah mengapa Naya merasa terintimidasi oleh kehadirannya.

“Hai Naya,senang bertemu denganmu. Aku Sandra, teman lama Adrian. Oh, ya selamat ya atas pernikahan kalian berdua. Maaf saat kalian menikah, aku sedang ada peragaan di China. Jadi aku tidak bisa datang.”

Oh, seorang peragawati batin Naya. Dengan tubuh tinggi langsing, harusnya Naya sudah bisa menebak sedari awal tadi.

“ Oke, Adrian, sampai ketemu lagi ya. Kebetulan aku sudah mau pulang,” pamit Sandra. Sambil melangkahkan kakinya, ia melemparkan senyum manis menggoda ke arah Adrian yang ditanggapi dengan dingin.

“Selamat tinggal, Sandra,”kata Adrian. Nada suaranya terdengar tegas. Tatapan matanya tajam, seakan kalau tatapan itu bisa melukai, Sandra tentu sudah berdarah-darah. 

Mood Adrian memang langsung berubah sejak bertemu Sandra barusan. Tadi saat ia menjemput Naya di kantornya, ia sangat bersemangat. Sekarang, wajahnya terlihat sangat serius. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal. Suasana ceria hilang begitu saja.

Melihat perubahan sikap suaminya, Naya bertanya-tanya dalam hati. Sebetulnya ia ingin bertanya pada Adrian, tapi ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan keherananya. Mungkin kalau waktunya tepat, Adrian akan bercerita kepadanya. Tapi, tak pelak timbul rasa penasaran dalam diri Naya. Pertanyaan besar menggantung di hatinya, siapakah perempuan itu bagi Adrian?

Bersambung...

Komentar

Postingan Populer