You Are (Not Always) What You Read
Siapa pengarang buku favorit anda? John Grisham? Michael Crichton? Itu mah saya :D . Ya, mereka pengarang buku favorit saya, selain Agatha Christie dan Enid Blyton. Enid Blyton? Bukannya dia pengarang buku remaja dan anak-anak ya? Iya seratus untuk anda, dua ratus untuk saya, upss.... *haha bercanda*
Dulu, waktu saya masih imut dan unyu-unyu (eh masih siiih sekarang,,uhuuukkkk), ibu saya suka beliin saya dan 2 kakak saya buku cerita anak. Ibu saya memang membiasakan kami untuk senang membaca.Walo kami hidup seadanya, tapi ibu selalu menganggarkan untuk buku. Mungkin karena ibu saya seorang guru yang mengerti betul pentingnya membaca.
Tapi gak semuanya beli sih. Sering banget saya pinjem temen ato tukeran buku ato nyewa di tetangga yang membuka persewaan buku cerita (tuh kan niat banget hihi).
Dari majalah Bobo yang waktu itu terbit setiap Kamis, buku-buku dongeng atau cerita daerah kayak Legenda Tampak Siring, Legenda Danau Toba dan semacamnya, sampe buku-buku karangan Enid Blyton. Saya ingat, betapa saya begitu menikmati membaca buku-buku tersebut. Terutama buku karangannya Bu Enid itu.
Bu Enid emang jagoan nulis cerita anak. Puluhan (apa ratusan yak?) buku sukses di pasaran. Beliau jago membangun karakter tokoh-tokohnya, mengemas alur dan plot cerita. Membuat kita yang baca seakan-akan ikut melihat, mendengar dan merasakan apa yang di alami oleh tokoh ceritanya.
Saat membaca serial sekolah Malory Towers misalnya, saya akan merasa ikut berada di sana dengan Darrell yang tegas tapi disukai semua temannya. Dengan Sally sahabatnya yang baiikkkk banget. Atau Alicia yang sangat cemerlang otaknya tapi jaiiiiil gak ketulungan. Gwendoline dan Daphne dua anak cantik yang doyan banget tampil rapi dan manja. Dan Mamzelle Dupont yang biasanya jadi sasaran kejailan Alicia dkk. Ditambah tokoh-tokoh lain yang unik karakternya. Pokoknya kalo belum tamat, saya gak bakal ninggalin tu buku.
Begitu juga dengan bukunya yang lain seperti Lima Sekawan. Saya pun merasa di bawa ke alam petualangan seru memecahkan misteri bersama Julian, Dick, Anne, George dan Timmy. Mencari harta karun, menangkap penjahat dll. Julian yang bersikap sebagai kakak dan sepupu yang bijaksana dan baik untuk Dick, Anne, serta si George anak perempuan tomboy yang sebetulnya nama aslinya Georgina.
Buku serial Si Badung, Bandel, Bengal dengan tokohnya Elizabeth yang gampang meledak-ledak tapi pintar dan baikkkk suka nolongin temennya. Pasukan Mau Tahu dengan komandan Fatty yang endut tapi bijaksana. Dan masih banyak buku-buku lain yang ikut menemani dan meramaikan masa kecil saya. Meramaikan imajinasi saya tentang dunia luas yang penuh warna.
Begitu menginjak usia remaja, SMP/SMA, saya dan kedua kakak saya beralih dari Bobo ke majalah Gadis. Buku ceritapun sudah mulai berubah ke buku-buku remaja macam Dear Diary dan semacamnya.
Hobi membaca masih berlanjut ketika kami kuliah dan berpisah (kuliahnya beda-beda maksudnya :D). Saya yang waktu itu kuliah di Solo menyisihkan anggaran bulanan yang diberikan orang tua untuk membeli majalah Annida.
Buku cerita udah jaraaaaannng banget dilirik. Paling satu dua. Itupun bertema agama karena waktu kuliah itu saya mulai mengenal tentang Islam melalui kajian di masjid kampus.
Gimana sekarang? Saat udah mempunyai 2 anak? Apa masih suka baca? Iyalah. Tapi karena sekarang eranya serba digital dan paperless jadi saya beralih ke e-book atau artikel-artikel yang bertebaran di dunia yang luas tapi sempit bernama internet :D .Bukan cuma itu sih sebetulnya, alasan yang utama karena baca e-book itu gratis hihihi....
Akhir kata, banyak yang bisa saya dapat dari hobi membaca ini. Setidaknya meskipun saya gak pinter dan gak jenius, saya jadi ngerti sedikit tentang perkembangan dunia luar. Membaca bagi saya ibarat dunia kecil tempat menjelajah berbagai tempat di belahan bumi yang penuh dengan berbagai peristiwa.
Dan karena kenangan yang indah bersama buku itulah, saya jadi ingin mengenalkan kebiasaan membaca ini kepada kedua buah hati saya. Alhamdulillah saat ini buku cerita anak bernuansa Islami sudah banyak ditulis dan diterbitkan. Jadi saya gak terlalu sulit mengarahkan anak-anak saya mana buku yang boleh mereka baca dan yang tidak.
Sekarang anggaran untuk membeli buku terbatas hanya untuk buku anak2 :). Saya percaya "investasi" membaca untuk anak tidak akan rugi (insya Alloh). Daripada mereka main playstation, saya lebih rela merogoh kocek lebih dalam dan menahan diri dari makan enak untuk beli buku anak ^_^...
Eh, btw apa hubungannya ya dengan judul di atas? Kata yang dalam kurung (not always) itu dari suami saya. Katanya, untuk membentuk karakter seseorang butuh lebih banyak input, gak cuma baca. Saya pikir benar juga sih. Tapi tetap, baca punya porsi besar bagi terbentuknya pola pikir seseorang. Bener gak? :)
"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you'll go" -Dr. Seuss, I can Read With My Eyes Shut!
Dulu, waktu saya masih imut dan unyu-unyu (eh masih siiih sekarang,,uhuuukkkk), ibu saya suka beliin saya dan 2 kakak saya buku cerita anak. Ibu saya memang membiasakan kami untuk senang membaca.Walo kami hidup seadanya, tapi ibu selalu menganggarkan untuk buku. Mungkin karena ibu saya seorang guru yang mengerti betul pentingnya membaca.
Tapi gak semuanya beli sih. Sering banget saya pinjem temen ato tukeran buku ato nyewa di tetangga yang membuka persewaan buku cerita (tuh kan niat banget hihi).
Dari majalah Bobo yang waktu itu terbit setiap Kamis, buku-buku dongeng atau cerita daerah kayak Legenda Tampak Siring, Legenda Danau Toba dan semacamnya, sampe buku-buku karangan Enid Blyton. Saya ingat, betapa saya begitu menikmati membaca buku-buku tersebut. Terutama buku karangannya Bu Enid itu.
Bu Enid emang jagoan nulis cerita anak. Puluhan (apa ratusan yak?) buku sukses di pasaran. Beliau jago membangun karakter tokoh-tokohnya, mengemas alur dan plot cerita. Membuat kita yang baca seakan-akan ikut melihat, mendengar dan merasakan apa yang di alami oleh tokoh ceritanya.
Saat membaca serial sekolah Malory Towers misalnya, saya akan merasa ikut berada di sana dengan Darrell yang tegas tapi disukai semua temannya. Dengan Sally sahabatnya yang baiikkkk banget. Atau Alicia yang sangat cemerlang otaknya tapi jaiiiiil gak ketulungan. Gwendoline dan Daphne dua anak cantik yang doyan banget tampil rapi dan manja. Dan Mamzelle Dupont yang biasanya jadi sasaran kejailan Alicia dkk. Ditambah tokoh-tokoh lain yang unik karakternya. Pokoknya kalo belum tamat, saya gak bakal ninggalin tu buku.
Begitu juga dengan bukunya yang lain seperti Lima Sekawan. Saya pun merasa di bawa ke alam petualangan seru memecahkan misteri bersama Julian, Dick, Anne, George dan Timmy. Mencari harta karun, menangkap penjahat dll. Julian yang bersikap sebagai kakak dan sepupu yang bijaksana dan baik untuk Dick, Anne, serta si George anak perempuan tomboy yang sebetulnya nama aslinya Georgina.
Buku serial Si Badung, Bandel, Bengal dengan tokohnya Elizabeth yang gampang meledak-ledak tapi pintar dan baikkkk suka nolongin temennya. Pasukan Mau Tahu dengan komandan Fatty yang endut tapi bijaksana. Dan masih banyak buku-buku lain yang ikut menemani dan meramaikan masa kecil saya. Meramaikan imajinasi saya tentang dunia luas yang penuh warna.
Begitu menginjak usia remaja, SMP/SMA, saya dan kedua kakak saya beralih dari Bobo ke majalah Gadis. Buku ceritapun sudah mulai berubah ke buku-buku remaja macam Dear Diary dan semacamnya.
Hobi membaca masih berlanjut ketika kami kuliah dan berpisah (kuliahnya beda-beda maksudnya :D). Saya yang waktu itu kuliah di Solo menyisihkan anggaran bulanan yang diberikan orang tua untuk membeli majalah Annida.
Buku cerita udah jaraaaaannng banget dilirik. Paling satu dua. Itupun bertema agama karena waktu kuliah itu saya mulai mengenal tentang Islam melalui kajian di masjid kampus.
Gimana sekarang? Saat udah mempunyai 2 anak? Apa masih suka baca? Iyalah. Tapi karena sekarang eranya serba digital dan paperless jadi saya beralih ke e-book atau artikel-artikel yang bertebaran di dunia yang luas tapi sempit bernama internet :D .Bukan cuma itu sih sebetulnya, alasan yang utama karena baca e-book itu gratis hihihi....
Akhir kata, banyak yang bisa saya dapat dari hobi membaca ini. Setidaknya meskipun saya gak pinter dan gak jenius, saya jadi ngerti sedikit tentang perkembangan dunia luar. Membaca bagi saya ibarat dunia kecil tempat menjelajah berbagai tempat di belahan bumi yang penuh dengan berbagai peristiwa.
Dan karena kenangan yang indah bersama buku itulah, saya jadi ingin mengenalkan kebiasaan membaca ini kepada kedua buah hati saya. Alhamdulillah saat ini buku cerita anak bernuansa Islami sudah banyak ditulis dan diterbitkan. Jadi saya gak terlalu sulit mengarahkan anak-anak saya mana buku yang boleh mereka baca dan yang tidak.
Sekarang anggaran untuk membeli buku terbatas hanya untuk buku anak2 :). Saya percaya "investasi" membaca untuk anak tidak akan rugi (insya Alloh). Daripada mereka main playstation, saya lebih rela merogoh kocek lebih dalam dan menahan diri dari makan enak untuk beli buku anak ^_^...
Eh, btw apa hubungannya ya dengan judul di atas? Kata yang dalam kurung (not always) itu dari suami saya. Katanya, untuk membentuk karakter seseorang butuh lebih banyak input, gak cuma baca. Saya pikir benar juga sih. Tapi tetap, baca punya porsi besar bagi terbentuknya pola pikir seseorang. Bener gak? :)
"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you'll go" -Dr. Seuss, I can Read With My Eyes Shut!
hobi saya juga baca. nice article btw
BalasHapusMembaca itu memang menyenangkan ^_^
BalasHapus