(FFI) Serpihan Luka Sepotong Hati

                “Vino, suka sama kamu, La,”tiba-tiba Wati, teman sebangkuku berkata padaku siang itu. Kalimat pendek tapi cukup membuatku kaget bukan kepalang. Saat itu jam istirahat, Wati dan aku tengah menikmati semangkok bakso panas berkuah pedas di kantin sekolah.

Vino, teman satu kelasku yang aku nilai selama ini pendiam tapi pintar. Sosok berperawakan sedang dan tidak mempunyai banyak teman walaupun juga tidak dapat dikatakan kurang pergaulan.

 “Ah, kamu tau dari mana, Wat,” jawabku mengelak. Sebisa mungkin aku tekan rasa kekagetanku. Mimik wajah, aku buat senetral mungkin, tak ingin Wati mengetahui bermacam rasa yang sekarang berkecamuk di hatiku.

“Vino bilang sendiri kepadaku, La. Kemarin saat aku memulangkan bukunya yang aku pinjam, dia bilang begitu kepadaku. Awalnya aku nggak percaya dan menganggapnya bercanda, tapi ternyata dia serius. Dia minta tolong sama aku bilang ke kamu. Trus, jawaban kamu apa, La?”

“Mmm…sukakan hak setiap orang. Jadi aku nggak bisa mengatur Vino untuk suka sama siapa. Tapi kamu kan tau, Wat. Aku gak mau pacaran. Aku udah pernah bilangkan dulu,” jawabku. Ada sebersit perasaan sedih saat kalimat itu keluar dari mulutku.

“Jadi, kamu nolak Vino, La?” tanya Wati. Rupanya ia belum puas akan jawabanku.

“Terserah mau dianggap apa. Tapi yang jelas, aku nggak mau dan nggak bisa pacaran. Itu udah prinsipku. Tapi tolong bilang sama Vino, ya Wat. Aku berterima kasih atas perasaannya itu padaku. Wat, aku ke musholla dulu ya, ada perlu sebentar,” kataku bergetar menahan tangis. Tanpa menunggu jawaban Wati, aku pun berdiri dan melangkah menuju kasir untuk membayar bakso yang masih tersisa setengahnya.

 Setelah itu, tak menunggu waktu lebih lama segera aku berlari menuju taman samping sekolah di mana musholla berada. Aku tak ingin bendungan air mataku jebol di kantin. Di tengah tatapan berpuluh pasang mata yang sedang menikmati berbagai jenis makanan yang ada di kantin itu.

Sesampainya di musholla, tumpah semua air mataku. Air mata yang selama ini hampir tidak pernah mengalir kecuali saat munajat malamku. Ada perasaan hancur dan sedih yang ruah membuncah. Sedih bukan main kurasakan. Benteng pertahanan yang selama ini aku bangun untuk menghilangkan perasaan yang aku sadari belum saatnya muncul, hancur berkeping-keping. 

Ya Alloh, mengapa ini harus terjadi? Di saat aku tengah berazzam untuk mengukuhkan diri di jalan yang Engkau ridhoi. Perasaan yang sungguh sebetulnya tidak pernah aku inginkan. Perasaan yang aku pendam dan simpan rapat-rapat di dasar hatiku yang paling dalam. Rasa yang sekuat tenaga berusaha aku hapus semenjak aku mengenal dien Islam ini melalui pengajian yang aku ikuti melalui Rohis sekolah.

Sungguh aku tidak menyangka dia akan merasakan hal yang sama kepadaku. Ya Alloh, semoga air mata ini bukan tumpahan kecewa, bukan pula bukti ketidakikhlasan atas semua yang terjadi. Ampuni hamba yang lemah ini, dan izinkanlah air mata ini menjadi saksi bahwa hamba telah sekuat tenaga menegakkan syariat-Mu. Menjaga hati hamba hanya untuk dia yang Engkau telah takdirkan kelak menjadi imam hamba. Seseorang yang berhak atas hati dan diri hamba. Kuatkan hamba ya Rohmaan…





Komentar

Postingan Populer