Mari Asah Empati Kita

Siapa yang gak kenal Iqbal? Bocah malang berusia 3,5 tahun yang diculik dan dianiaya oleh si penculik? Yang sekarang tengah dirawat di ruang intensif untuk anak (NICU) di RSUD Koja? Beritanya sedang marak di TV dan media cetak.

Setiap ada kejadian yang menimpa seorang anak, pasti menjadi perhatian saya. Selain karena gak habis pikir juga karena saya punya anak. Dua orang. Jadi secara otomatis, kalo ada kejadian seperti Iqbal, pikiran saya langsung ke anak saya  (Ya Alloh jaga anak hamba selalu aamiin).

Kembali ke berita tentang Iqbal. Jadi ceritanya begini, Iqbal diculik oleh seorang laki-laki (D) yang cintanya ditolak oleh sang ibu. Karena sakit hati, D itu lalu menculik Iqbal putra kandungnya. Ia diculik saat ibunya berjualan es di depan Atrium Plaza, Senen.

Selama dalam penculikan Iqbal di siksa. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Dari kepala, lidah, perut yang penuh luka bekas sundutan, alat vital sampe tangannya yang patah. Rupanya D sering sekali bertindak semena-mena terhadap bocah kecil itu. Salah satu alasannya karena saat Iqbal diajak mengamen, pendapatan yang diterima D akan meningkat jauh. Karena orang-orang kasihan melihat Iqbal yang kesakitan *Ya Alloh teganya kamu D! *

Bagaimana akhirnya penderitaan Iqbal bisa diberitakan di mana-mana? Suatu hari, saat mereka sedang mengamen, ada seorang mbak2 (Juliana) yang miris dan kasihan melihat kondisi Iqbal. Saat itu kondisinya kejang-kejang. Tapi sama D dibiarkan aja.

Ketika mbak Juliana menanyakan kenapa Iqbal gak segera dibawa ke rumah sakit, si D jawabnya muter-muter dan kelihatan mengelak. Mbak yang baik hati ini kemudian mengajak untuk membawa Iqbal ke dokter untuk mendapat tindakan segera. Awalnya D menolak. Tapi karena terus didesak, akhirnya D mau juga diajak mencari dokter di klinik terdekat.

Akhirnya mereka datang ke Puskesmas Pademangan. Iqbal pun diperiksa. Sang dokter (dr Zakia Thalib) yang memeriksa curiga melihat banyaknya luka-luka di tubuh Iqbal. Ia merasa ada yang tidak wajar. Kemudian ia menghubungi pihak kepolisan.

Karena luka-luka yang serius, Iqbal dirujuk ke rumah sakit dan dimasukkan ke dalam ruang intensif. D pun sekarang ditahan untuk menjalani proses hukum akibat perbuatannya.

Duh, mata saya berkaca-kaca. Membayangkan anak sekecil itu harus menerima penderitaan yang begitu berat. Apalagi usia Iqbal sama seperti usia anak kedua saya.

Anak-anak kecil yang malang. Dan kisah menyedihkan itu bukan hanya dialami oleh Iqbal. Banyak kejadian yang menimpa anak-anak kecil yang lain di penjuru negeri ini. Lantas, akan kemana kita mencari rasa aman?

Semoga semakin banyak orang-orang seperti mbak Juliana yang tidak sekadar berempati tapi bertindak. Atau seperti bu dokter Zakia Thalib yang juga cepat tanggap melihat kejadian tidak wajar ini.

Coba kalo mbak Juliana cuma kasihan, memberikan uang lalu pergi begitu saja. Dan Bu Dokter yang menolak merawat karena masalah administrasi misalnya?

Mari asah empati kita *self reminder*. Buka mata dan hati. Lihat lebih dekat sekeliling kita. Lakukan yang bisa dilakukan. Semampunya.

Ya Alloh, lindungi kami semua. Berikan kepada kami hati-hati yang lembut dan mudah berempati kepada sesama yang membutuhkan. Kuatkan kami untuk bisa melakukan sesuatu untuk menolong mereka. Lindungi selalu anak-anak kami Yaa Robb...aamiin.


http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/03/15/n2gw7w-bayi-penuh-luka-bakar-itu-ternyata-korban-penculikan






Komentar

Postingan Populer