(CERBER) Pelangi di Hati Naya (Bag 1)
Suasana malam ini begitu hening, hanya terdengar tetesan hujan yang tempias menerpa permukaan jendela dan sesekali suara desauan semilir angin. Jam yang bertengger di dinding sudah menunjukan tepat angka 00.00.
Naya masih terjaga dalam kamarnya. Pikirannya melayang tak tentu arah. Entah mengapa malam ini sulit sekali dirinya untuk jatuh tertidur. Selembar foto tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya. Hatinya gundah bukan main. Masih terekam jelas, percakapannya dengan ayah dan ibunya beberapa jam yang lalu. Tadi sesaat setelah makan malam, mereka mengajaknya berbicara. Dari gestur ayah dan ibunya, Naya sudah tahu bahwa itu akan jadi pembicaraan yang serius. Gestur yang sama saat dulu mereka akan menentukan jurusan mana yang akan Naya pilih selulusnya ia dari sekolah menengah atas.
Naya masih terjaga dalam kamarnya. Pikirannya melayang tak tentu arah. Entah mengapa malam ini sulit sekali dirinya untuk jatuh tertidur. Selembar foto tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya. Hatinya gundah bukan main. Masih terekam jelas, percakapannya dengan ayah dan ibunya beberapa jam yang lalu. Tadi sesaat setelah makan malam, mereka mengajaknya berbicara. Dari gestur ayah dan ibunya, Naya sudah tahu bahwa itu akan jadi pembicaraan yang serius. Gestur yang sama saat dulu mereka akan menentukan jurusan mana yang akan Naya pilih selulusnya ia dari sekolah menengah atas.
Hidupnya memang ibarat desain sempurna suatu cetak biru dan replika ideal seorang putri. Orang tuanya berperan sebagai desainer, dan Naya sebagai pemeran utama cetak biru itu. Dari kecil hingga lulus universitas sampai bekerja, orang tuanyalah yang berperan sebagai sutradara hidupnya.
Sampai titik itu, Naya menjalani semua pilihan dan kehendak orang tuanya tanpa pernah membantah walaupun hatinya menjerit. Seperti ketika ia dipilihkan untuk memasuki jurusan manajemen padahal di dalam hatinya yang terdalam, Naya ingin belajar jurnalistik. Menjadi seorang jurnalis yang bisa melanglang buana adalah impiannya sejak ia membaca kisah heroik seorang jurnalis perang. Tapi tentu saja, lagi-lagi jeritan hatinya harus mengalah pada ultimatum orang tuanya.
Beruntung, walau menjalani masa-masa kuliah manajemen setengah hati, berkat otak cemerlangnya Naya berhasil menyelesaikan studinya tersebut dengan nilai outstanding dan waktu yang cukup singkat. Predikat mendekati summa cumlaude ia persembahkan kepada orang tuanya sebagai tanda bakti seorang anak.
Setelah lulus pun, Naya tidak bisa menghela nafas dengan lega untuk mengejar impiannya. Suatu posisi penting di jajaran manajemen di mana orang tuanya memiliki sebagian besar saham telah menunggu dirinya. Sekali lagi, ia harus mengalah pasrah menjalani hari-harinya sebagai eksekutif muda yang bergerak di industry shipping dan logistic. Sebuah industri yang membutuhkan kelihaian dan kepiawaian insting untuk selalu bergerak cepat dan dinamis kalau tidak ingin tergerus kompetitor bidang serupa.
Tak terasa, sebutir air mata jatuh mengenai pipinya. Kulminasi perasaan yang selama ini menumpuk di lubuk terdalam hatinya pelan-pelan keluar memenuhi ruang-ruang kesadarannya. Kesadaran yang selama ini mati rasa karena sikap otoriter yang tidak menerima celah diskusi, sekarang lebur bersama tumpahan air matanya. Naya merasa inilah titik klimaks dinding pertahanan dirinya. Jebol sudah dinding yang selama ini pelan-pelan ia bangun untuk mengimbangi logika otaknya yang berteriak untuk memberontak terhadap kehendak otoriter kedua orangtuanya itu.
Kali ini, bukan cuma jurusan yang dipilihkan untuknya, atau pekerjaan yang telah disiapkan. Bukan pula jenis pakaianyang sesuai dengan selera tinggi ibunya atau berbagai kegiatan yang harus ia ikuti. Bukan. Ini lebih dari itu. Ini menyangkut kebahagiaan dirinya untukjangka waktu yang panjang.
Sebuah foto disodorkan kepada dirinya sesaat setelah makan malam tadi. Foto yang bergambar seorang laki-laki di usia akhir 20an. Dari raut wajah yang tergambar, Nayamelihat seorang laki-laki tampan dan sangat percaya diri, versi lain dari istilah arogan dalam kamus Naya.
Sosok yang tadi dikatakan orang tuanya yang dalam beberapa bulan ke depan akanmenjadi pendamping hidupnya. Sungguh, serasa runtuh langit yang saat itu menaungi dirinya. Tega sekali orang tuanya, bahkan untuk pendamping hidup pun Naya tidak dibiarkan memilih.
Bersambung.....
Komentar
Posting Komentar