(CERBER) Pelangi di Hati Naya (Bag 2)

Naya mengerjapkan mata. Sinar matahari pagi terasa begitu silau menusuk matanya. Sepertinya ia lupa menutup tirai jendela tadi malam. Setelah beberapa menit kemudian, mata Naya mulai terbiasa dengan sinar terang itu. Saat Naya menoleh ke arah jam weker di atas meja, jarum panjang telah menunjukkan angka 10.00. Naya kaget, tidak biasanya ia telat bangun tidur. Sudah merupakan rutinitas baginya memulai hari di saat jarum panjang jam berada tepat di angka 5.00. Kemudian memulai ritual pagi. Menggosok gigi, jogging lima putaran mengelilingi taman luas di kompleks perumahan, lalu mandi dan bersiap berangkat kerja.


Untungnya hari ini hari Minggu. Jadi, Naya tidak perlu khawatir akan kesiangan pergi ke kantor. Tapi, Naya bukan seorang pemalas, hari libur pun biasanya Naya akan selalu bangun pagi-pagi. Menghirup udara sejuk dan bersih cukup membuatnya bersemangat memulai hari dengan setumpuk aktivitas yang telah menunggu untuk diselesaikan.


Naya bangkit dari tempat tidur nyamannya, dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat bercermin di kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya itu, ia hampir tidak percaya ketika melihat bayangannya sendiri. Didepannya ada sosok wajah wanita muda yang terlihat sangat kuyu dengan kelopak mata yang sembab. Tadi malam, rupanya Naya jatuh tertidur di tengah tangisan dan kesedihan hatinya yang mendalam.


Selesai mandi, Naya kemudian berpakaian. Pakaian kasual yang nyaman, celana jeans panjang biru tua dan kaos berwarna senada. Rambutnya yang basah sehabis keramas, dibiarkan tergerai dipunggungnya. Wajahnya terlihat lebih segar. Hampir semua orang yang mengenal dirinya atau pernah bertemu dengannya, mengakui dan memuji kecantikannya. Wajah cantik yang diwariskan dari ibunya. Hanya saja wajah Naya lebih terlihat natural. Sedangkan ibunya berkesan aristokrat.


Setelah rapi, Naya pergi ke dapur. Perutnya terasa lapar setelah menangis hampir sepanjang malam. Makanan sebenarnya sudah tersedia di meja makan. Cuma, di saat libur seperti sekarang ia lebih suka memasak sendiri. Keahlian yang didapat dari mengamati dan banyak bertanya kepada juru masak di rumah itu, dan rajin menonton tv show memasak seorang chef senior yang memang sering menampilkan berbagai tips memasak yang tepat.


Hari ini, seperti hari-hari lainnya, keadaan rumah terasa lengang. Hanya ada beberapa pembantu yang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.


Ayahnya mungkin sudah pergi ke klub olahraga eksekutif di mana ia menjadi anggota tetap di sana seperti yang biasa ia lakukan setiap hari libur. Klub tempat para pengusaha sukses di kota ini berkumpul, sebagai wadah lobi-lobi bisnis kelas tinggi tidak resmi tapi penting. Diselingi olahraga khas kalangan jet set, seperti golf dan berkuda. Sedangkan ibunya mungkin sedang berkumpul dengan teman-temannya, kumpulan sesama ibu-ibu sosialita. Entah di rumah salah satu anggotanya atau salon kecantikan ekslusif yang bertarif setara 3 kali lipat besaran UMR Jakarta.


Pada hari-hari biasa pun, ayah ibunya memang jarang berada di rumah. Tipikal orang-orang yang sibuk mencari uang yang menurut Naya tidak akan pernah ada ujungnya. Karena terbiasa sendiri, akhirnya Naya lebih dekat dengan pembantu-pembantu di rumahnya. Pengurus rumah tangga yang bertugas menjaga kebersihan dan kerapihan, juru masak, dan tukang kebun. Dengan merekalah Naya lebih banyak berinteraksi.


Walaupun Naya hidup bergelimang kekayaan, ia bukan seorang gadis manja. Ia bukan tipe gadis-gadis dari kalangan menengah keatas yang senang dengan kehidupan sosialita. Naya tidak suka shopping ke mall atau kongkow di café-café yang menawarkan kenyamanan tempat dan beragam menu menarik. Ia pun bukan tipe gadis yang suka bersosialisasi dengan teman sebayanya.


Naya introvert. Keadaan dirinya yang merupakan anak tunggal membuat dirinya semakin menarik diri dari hiruk pikuk dunia sekitar. Ia biasa berada dalam dunia dengan berbagai mimpinya. Dunia miliknya sendiri, dimana ia bisa bebas menjadi dirinya tanpa intervensi perintah orang tuanya. Temannya adalah tumpukan buku-buku koleksinya dan novel-novel kesayangannya.


Tapi hari itu Naya tidak ingin berdiam diri dikamarnya yang nyaman dan membaca buku. Ia ingin melakukan aktivitas berbeda untuk melupakan sejenak masalahnya. Akhirnya, Naya memutuskan untuk pergi ke toko buku langganannya dan menikmati es krim kesukaannya. Naya berharap semoga saja itu bisa mengobati luka hatinya meskipun hanya sedikit dan sementara.


Dengan langkah cepat Naya memasuki garasi luas di rumah, lalu mengambil kunci mobil Mini Cooper biru hadiah dari orang tuanya atas kelulusannya tempo hari.


***


Suasana mall siang itu ramai. Hari Minggu memang waktu untuk sebagian besar keluarga di Jakarta melakukan kegiatan bersama. Karena sebagian besar tempat yang bisa dijadikan berekreasi di ibu kota ini adalah mall, jadi wajar kalau tempat ini sekarang dipadati oleh pengunjung. Pengunjung yang datang dengan bermacam-macam motif. Berbelanja, hangout bersama teman, makan, sampai hanya sekedar membunuh waktu.


Mall ini terkenal di kalangan anak muda dan para eksekutif muda di Jakarta. Letaknya cukup strategis di pusat kota Jakarta, selain itu terdapat toko-toko mewah yang menawarkan berbagai produk. Bermacam merk produk dunia tersedia di sini. Pengunjung mall dapat memilih untuk berbelanja pakaian berbagai musim dan koleksi parfum terkenal Dior, tas elegan dari Louis Vuitton, jam tangan merk Tag Heuer, perhiasan berlian Windsor Diamonds dan masih banyak lagi produk bergengsi lainnya. Salah satu surga belanja di Jakarta untuk kalangan atas dan berduit.


Tapi bukan karena banyaknya toko mewah di mall itu yang menarik hati Naya, toko bukulah yang membuat dirinya betah berjam-jam disana. Toko buku yang berada di lantai 5 mall, yang berasal dari Jepang, dengan koleksi bukunya yang lumayan lengkap karangan pengarang-pengarang terkenal dari dalam dan luar negeri.


Sesampai di dalam toko, Naya segera menuju ke rak tempat deretan novel berada. Tak lama kemudian, 2 buah novel telah berada di tangannya. Novel bergenre thriller dan petualangan yang direkomendasikan oleh suatu komunitas online pembaca buku. Naya bukan tipe yang romantis, ia tidak percaya kisah ala fairy tale yang kisahnya selalu berakhir happily ever after. Naya gadis logis dan ia percaya bahwa cinta tidak perlu dicari, cinta akan datang ketika memang waktunya sudah tiba.


Setelah itu, ia beralih ke rak buku-buku spiritual dan motivasi. Entah mengapa, ia merasa jiwanya yang saat ini sedang rapuh butuh asupan yang bisa menguatkan. Ia tidak ingin terpuruk lebih dalam. Impiannya boleh terpasung, tapi jiwanya harus tetap tegar menghadapi semuanya.


Setelah berjam-jam, Naya akhirnya berhasil memilih beberapa judul buku spiritual yang menurutnya menarik. Bergegas ia menuju ke kasir untuk membayar semua buku-buku yang dipilihnya itu. Naya mengeluarkan sejumlah uang cash dari dompetnya. Ia sengaja tidak menggunakan kartu kredit MasterCard miliknya. Kartu kredit yang merupakan fasilitas pemberian ayahnya.


Bahkan, saat sudah bisa mandiri dengan bekerja pada posisi eksekutif muda seperti saat ini, ayahnya masih memanjakan dirinya dengan berbagai fasilitas. Naya bukannya tidak mensyukuri semua pemberian orangtuanya itu. Naya tahu, itu adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan kepada dirinya. Tapi, ia ingin merasakan menjadi pribadi yang mandiri. Yang bisa tegak berdiri di atas kakinya tanpa senantiasa bergantung kepada orang-orang disekelilingnya. Maka, jalan tengah yang ia ambil adalah menerima semua fasilitasyang diberikan, tetapi ia hanya akan menggunakannya di saat dirinya benar-benar membutuhkan.


Selesai membayar semua buku dan novel, Naya melangkahkan kakinya ke toko es krim yang berada di lantai basement mall. Hari mulai menginjak sore. Dan memilih-milih buku cukup menguras waktunya. Perutnya belum terlalu lapar, berkat sarapannya yang terlambat tadi. Tapi es krim selalu menjadi menu favoritnya sejak kecil, yang sampai sekarang sulit untuk dihilangkan.


Selesai menikmati es krim, Naya pulang. Jarak antara rumahnya dengan mall tidak terlalu jauh. Tidak kurang dari setengah jam, mobil Naya sudah sampai di depan rumahnya. Rumah kokoh bercat putih, berlantai dua dengan gaya modern khas rumah eropa. Setibanya di halaman rumah, Naya melihat sebuah mobil Audi berwarna abu-abu metalik terparkir di samping mobil BMW hitam milik orang tuanya. Sepertinya baru sekali ini Naya melihat mobil tersebut. Sambil bertanya-tanya dalam hati, Naya memarkir mobilnya dan keluar dari mobil menuju pintu samping rumahnya. Ia tidak mau mengganggu tamu yang mungkin sedang ada urusan penting dengan kedua orang tua.


Baru saja Naya melangkah, ibunya tergopoh-gopoh keluar dari arah pintu depan menghampiri.


“Naya, dari mana saja kamu? Ayo, ikut mama. Ada tamu penting untukmu,” katanya sambil menarik lembut tangan Naya. Wajah ibunya terlihat cerah pertanda ada sesuatu yang membahagiakan hatinya.


“Dari toko buku, Ma. Aku tadi ada keperluan sebentar. Tamunya siapa? Koq aku nggak tahu ya, ada yang mau datang menemui hari ini,” Maya mengernyitkan dahinya keheranan. Biasanya hanya orang-orang yang benar-benar ada urusan penting yang datang menemui dirinya di rumah. 


“Sudah jangan banyak tanya, Sayang. Kamu lihat sendiri aja nanti. Ayo kita ke sana, nggak enak sama tamunya yang sudah menunggu.”


Tanpa bertanya lagi, Naya mengikuti ibunya ke ruang tamu. Keheranan masih bergayut di kepalanya menebak siapa gerangan sang tamu yang datang ke rumahnya dan membuat ibunya berseri-seri itu. Dalam diam, Naya masuk ke rumah. Ibunya terus memegangi tangan Naya, seakan-akan takut kalau ia akan lari.


Sesampainya di dalam, jantung Naya bagaikan merosot dari tempatnya berada. Tamu itu ternyata adalah orang yang fotonya diberikan oleh kedua orang tuanya semalam. Wajahnya memang tidak terlalu berbeda, hanya saja terlihat lebih tampan bila dibandingkan fotonya. Sosoknya tinggi besar meskipun saat ini ia ada dalam posisi duduk, rambutnya hitam bergelombang. Sikapnya tenang walau sedikit kaku.


Di samping kiri dan kanan laki-laki itu terdapat sepasang suami istri yang Naya perkirakan seumuran kedua orang tuanya. Mereka tersenyum menatap Naya. Di depannya, duduk Ayah Naya yang raut mukanya pun terlihat berseri-seri. Ayahnya terlihat gembira saat melihat kedatangan Naya.


“Naya, sini, Nak. Ada yang mau papa perkenalkan kepadamu....”


Hati Naya bergemuruh kencang. Kakinya lemas,dan mungkin tidak akan kuat menopang berat tubuhnya kalau saja ibunya tidakmemegang tangannya. Wajahnya memucat. Ternyata Naya tidak diperkenankan tenang sejenak. Semalam baru saja fotonya ia terima, hari ini di depan matanya sudah berdiri sosok dalam foto itu.

Bersambung...

Komentar

Postingan Populer