(CERBER) Pelangi di Hati Naya (Bag 3)

Adrian Bagaskara Prasodjo, begitu nama lengkap laki-laki yang beberapa bulan lagi akan menjadi suaminya. Ia anak tertua di keluarga Prasodjo. Sebuah keluarga yang masih keturunan trah kasunanan Surakarta.


Muda, tampan, sukses, kaya, pintar, dan punya ambisi besar. Itu kesan yang Naya tangkap dari Adrian. Usianya 29 tahun, lebih tua 3 tahun dari Naya. Lulusan manajemen bisnis dari Stanford Graduate School of Business, California. Dan saat ini ia menjadi salah satu direktur muda diperusahaan property milik orang tuanya. Adrian punya satu adik perempuan yang sedang menyelesaikan studi spesialis bedah saraf di Johns Hopkins Medicine School di Baltimore.


Ayah Adrian, Santoso Haryo Prasodjo, merupakan teman baik ayah Naya sejak muda dulu sampai sekarang, saat mereka sudah menjadi pengusaha sukses di bidangnya masing-masing. Ayah Naya di bidang kargo dan shipping, sedangkan ayah Adrian di bidang property. Mereka bersahabat sejak sekolah dulu. Walaupun, saat merintis usaha mereka sempat terpisah, tapi sekarang persahabatan mereka kembali terjalin. Dan untuk memperkuat ikatan persahabatan itu,mereka sepakat untuk menjodohkan kedua anak mereka.


Pertemuan Naya dengan Adrian beserta kedua orang tua keduanya berjalan dengan baik seperti yang diharapkan oleh ayah dan ibu Naya. Naya lebih banyak diam dan menjawab seperlunya, walaupun ia tetap menunjukkan sikap sopan santun seperti yang selama ini selalu ditekankan oleh ibunya. Hampir setiap ada acara resmi, ibunya akan memantau gerak geriknya. Kesopanan, walaupun sebatas formalitas, sesuatu yang tidak bisa ditawar bagi ibunya. Apalagi pertemuan dengan calon suami dan kedua orang tuanya.


Berbeda dengan Naya yang pendiam, Adrian lebih banyak memposisikan diri sebagai inisiator percakapan. Walaupun begitu, Naya tidak merasa digurui dan didominasi. Dua perasaan yang sangat akrab dengan dirinya. Adrian pun bisa bersikap seperti seorang gentleman kepada Naya. Seperti saat Naya akan duduk di meja makan, Adrianlah yang menarikkan kursi untuknya.


Pertemuan berakhir sehabis makan malam. Adrian dan kedua orang tuanya pun berpamitan. Naya serta orang tuanya mengantar mereka sampai di depan pintu. Sesaat setelahnya, Naya langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Novel dan buku-buku yang tadi dibelinya, disimpan dengan rapi di rak. Badannya terasa sangat lelah setelah seharian tadi memilih buku berjam-jam di mall. Mungkin dengan mandi air hangat, badannya bisa sedikit segar pikir Naya. Setelah selesai dan berpakaian piyama, Naya membaringkan diri di kasur empuk luas di kamarnya itu. Tak butuh waktu lama, dirinya sudah lelap tertidur dibawa mimpi.


*****


Hari-hari berlalu dengan cepat sejak pertemuan Naya dan Adrian dua bulan yang lalu. Kesibukan Naya sebagai assistant general manager sangat menyita waktu dan pikirannya. Berbagai meeting dan deal-deal harus ia tangani. Perusahaannya sedang berencana untuk ekspansi ke beberapa negara, untuk itu dibutuhkan kerja yang ekstra keras.

PT. Kanaya Shipping memang sedang berkembang dengan pesat. Memasuki masa 20 tahun sejak berdirinya, PT. Kanaya telah sukses menjadi salah satu perusahaan kargo dan shipping yang cukup dikenal, baik di lingkup nasional maupun internasional. Tangan dingin ayah Naya dan kejeliannya dalam melakukan berbagai negosiasi dengan pihak-pihak terkait, berperan cukup besar akan kesuksesannya itu.


Aset serta nilai laba yang dihasilkan meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Grafik kemajuannya selalu menunjukkan perubahan yang positif, seiring kegigihan usaha ayah Naya mengelola perusahaan. Dari aset awal yang cuma berupa satu gudang dengan mobil box, saat ini beberapa armada kapal container telah dimiliki.

Ayah Naya merintis usaha ini dari bawah. Awalnya ia merantau ke luar negeri menjadi seorang pekerja di perusahaan kargo besar asal Jepang. Usai lulus sekolah menengah atas, ia langsung mencoba peruntungannya saat dibuka pendaftaran untuk menjadi pekerja di perusahaan tersebut. Maka, berangkatlah ia mengadu nasib di negeri orang. Berkarir dari bawah sebagai awak kapal kargo, kemudian naik hingga akhirnya menjadi regional operation executive. Posisinya terus meningkat karena ia berhasil menunjukkan performa kinerja yang baik. Jabatan managing corporate officer atau setara dengan CEO wilayah dipercayakan kepadanya, saat perusaahan itu membuka cabang di Indonesia. 


Setelah berkarir selama 20 tahun di dunia shipping dan kargo, membuat ayah Naya tertarik untuk merintis usahanya sendiri. Karena pengetahuan dan pengalamannya yang luas dibidang ini, tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk menjadikan perusahaan yang didirikannya berkembang dan cukup diakui keberadaannya.


Nama Kanaya diambil dari nama putri semata wayangnya. Putri yang tumbuh di saat ia jatuh bangun merintis usahanya. Putri yang bernama lengkap Kanaya Pradnya Nareswari, atau biasa dipanggil Naya. Artinya seorang wanita yang memiliki jalan hidup bahagia dan sempurna. Sedangkan Pradnya berarti pagi. Naya memang lahir 26 tahun yang lalu pada pagi yang rintik.


Perusahaan ini mempunya beberapa cabang di berbagai kota di Indonesia. Pusatnya di Jakarta. Di gedung berlantai 10 milik sendiri yang berada di pusat jantung bisnis ibu kota. Kawasan segitiga emas yang dikenal sebagai central business district dan meliputi tiga jalan utama, Jl.Jend. Sudirman, Jl. Jend. Gatot Subroto dan Jl. HR Rasuna Said. Sebuah kawasan yang dipadati dengan bangunan perkantoran, hotel-hotel mewah, dan pusat-pusat perbelanjaan. Ditambah dengan adanya Semanggi Central Business District, menjadikan kawasan ini semakin terintegrasi.


Disebabkan usia yang sudah menginjak senja, saat ini ayah Naya tidakterlalu banyak turun untuk mengelola perusahaannya. Ia hanya akan turun bila ada deal-deal penting yang nilai serta prospeknya sangat berpengaruh untukperusahaan. Untuk hal-hal di luar itu, maka wakilnya atau Naya sendiri yang akan menanganinya. Wakil ayah Naya yang sekaligus merupakan atasan Naya bernama Ponco Raharja. Seorang eksekutif kawakan binaan ayah Naya. 


Naya memang ditempatkan bukan di pucuk tertinggi perusahaan. Ayahnya ingin ia belajar lebih dahulu bagaimana mengelola bisnis dan mendapat pengalaman yang cukup sampai tiba waktu yang tepat untuk Naya mengambil alih pimpinan perusahaan.


Di bawah bimbingan wakil ayahnya itu, sedikit demi sedikit Naya berkembang menjadi seorang pelaku bisnis yang piawai. Naya menyerap dengan sempurna semua yang diajarkan kepadanya. Sehingga dalam kurun waktu singkat, ia telah dikenal sebagai pebisnis yang cerdas dan lihai dalam bernegosiasi dengan calon mitra atau pengguna jasa perusahaannya. Kelihaian yang kemungkinan diturunkan dari ayahnya.


Selain itu, Naya punya satu lagi kelebihan. Ia menetapkan batas-batas yang tidak mau ia langgar dalam menjalankan tugasnya. Ia tidak mau menyuap untuk melancarkan bisnis atau melakukan hal-hal yang menurutnya tidak etis dan melanggar hukum. Baginya, berbisnis itu tidak mesti merendahkan nilai-nilai etika dan moralitas.


Naya pun disukai oleh bawahannya. Ia adalah atasan yang baik dan ramah tanpa kehilangan wibawa dan ketegasan. Ia tidak pernah membentak bawahannya, bahkan saat mereka tidak bisa menyelesaikan tugas sesuai target yang telah ditetapkan atau berbuat suatu kesalahan. Ia hanya akan menegur dan memberi arahan kepada mereka. Dalam pikiran Naya, manusia itu sumber daya yang sangat berharga, jadi ia harus memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya.


Naya, biasa bekerja 7/24. Dalam arti, bahkan disaat libur dan jam-jam istirahat sekalipun, ia harus siap dihubungi atau melaksanakan tugas apabila ada hal-hal yang memang butuh penanganannya.


*****


“Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home


Maybe surrounded by
A million people
I still feel all alone
I just wanna go home”


Tiba-tiba lantunan lembut ring tone dari lagu Home yang dinyanyikan oleh Michael Buble, menyentakkan Naya dari kesibukannya saat ini. Seperti hari-hari kerja biasanya, ia memang sedang berada di kantornya. Di meja kerjanya yang luas berserakan kertas-kertas hasil riset dan tinjauan staf dari divisi marketing tentang prospek ekspansi ke negara-negara timur jauh seperti Cina dan negara tetangganya. Naya bertugas untuk memeriksa dan memberikan reviewnya sebelum hasil akhir ia serahkan kepada Pak Ponco dan ayahnya.


Dari layar telepon genggam, Nampak ID ibunya memanggil. Tidak biasanya ibunya menelpon dirinya. Kalau sampai menelpon di waktu kerja begini, berarti ada sesuatu yang penting untuk disampaikan.


“Hallo, Ma,” Naya mengangkat telponnya.


“Naya, ada yang mau mama bicarakan sama kamu, Nak. Kamu sibuk ya?” tanya ibunya tanpa basa basi. Pembicaraan mereka selama ini adalah pembicaraan tanpa tedeng aling-aling dan langsung kepada pokoknya. Ibunya menyampaikan maksudnya, dan Naya akan menerimanya. Sesimpel itu. Seingat Naya, sangat jarang pembicaraan mereka berlangsung hangat dan dari hati ke hati.


“Nggak apa-apa, Ma. Naya lagi meriksa beberapa kerjaan aja. Ada apa, Ma siang-siang telpon Naya, “ sesibuk apapun, Naya selalu berusaha menampilkan sikap yang menyenangkan lawan bicaranya. Apalagi kepada ibu dan ayahnya. Walaupun hubungan mereka penuh formalitas, tapi Naya sangat menyayangi keduanya.


“Naya, Mama dan Maminya Adrian mau pergi ke konsultan wedding planner membicarakan acara pernikahan kalian. Besok kamu nggak usah kekantor ya, kita langsung berangkat ke kantor konsultannya. ”


Mendengar itu, Naya menghela napas panjang. Ah, lagi-lagi soal pernikahan batinnya. Tapi, Naya tidak bisa menghindar. Sejak kunjungan Adrian dan kedua orang tuanya ke rumah orang tua Naya, kedua ibu mereka intens mengadakan pembicaraan tentang rencana pernikahan kedua anakmereka. Di satu sisi, Naya sangat bersyukur karena ia tidak perlu direpotkan dengan urusan tetek bengek rangkaian acara yang sudah bisa diprediksi akan berlangsung dengan megah. Mengapa tidak? Naya anak satu-satunya pewaris tunggal perusahaan yang sedang berkembang pesat, sedangkan Adrian putra mahkota dari bisnis property yang masuk dalam the big five privately-owned property company di Indonesia.


“Naya sedang ada proyek untuk ekspansi perusahaan kita, Ma. Jadi kayaknya Naya nggak bisa ikut. Naya percaya deh sama Mama. Apapun pilihan Mama, Naya setuju aja,” jawab Naya. Pernikahan ini bukan atas keinginannya sendiri. Pernikahan ini adalah rencana ayah ibunya dengan ayah dan ibu Adrian. Lagipula, ibunya sosok dominan, apapun keinginan Naya,yang biasanya menang adalah keputusan ibunya. Jadi ada atau tidak ada dirinya,tidak akan banyak berpengaruh.


“Ya sudah, besok mama sama maminya Adrian saja yang berangkat. Udah dulu ya, Nak,” kata ibunya menutup pembicaraan.


“Ya, Ma,”jawab Naya.


Naya kembali memusatkan perhatiannya ke pekerjaan yang tergeletak di mejanya. Dia harus cepat menyelesaikan review ini, deadline yang tersisa hanya beberapa hari sebelum keputusan diambil. Bisnis ini memang berlomba dengan waktu, selain dengan inovasi system pengiriman.




***


Naya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ah sudah hampir 2 jam dia di sini. Tepatnya di butik milik seorang salah seorang perancang kebaya ternama. Ia melirik ke arah ibunya yang kelihatannya begitu bersemangat berbicara kepada sang perancang. Adrian duduk disampingnya dengan tenang. Beberapa kali sebenarnya Adrian berusaha untuk lebih dekat dengan Naya dengan mengajaknya berbicara, yang di sambut dengan jawaban-jawaban pendek Naya.


Harusnya ibu Adrian turut hadir, tapi karena harus mendampingi suaminya dalam suatu acara yang tidak bisa diwakilkan, akhirnya hanya Adrian, Naya dan ibunya yang datang.


Setelah sebelumnya menolak ikut ke kantor konsultan pernikahan, semalam ibunya memberi ultimatum. Kali ini ia tidak boleh menolak pergi bersama ibunya untuk memilih pakaian yang akan dikenakan untuk pernikahan. Karena akan sekalian dilakukan pengukuran.


Model serta warna dari kebaya yang akan digunakan Naya dan Adrian sudah disepakati. Warna broken white untuk acara akad, dan merah marun untuk acara resepsi. Modelnya kebaya Jawa yang klasik tapi elegan.


Setelah 3 jam, akhirnya selesai juga sesi konsultasi dan pengukuran. Jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Dengan diantar Adrian, Naya dan ibunya pulang setelah sebelumnya mereka makan di restoran dekat butik.


***


Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa hari pernikahan Naya dan Adrian semakin dekat. Semua pernak-pernik pernikahan sudah selesai. Dari pakaian yang sudah selesai dijahit, gedung, catering, susunan acara dan panitia, souvenir sampai pernak pernik lainnya. 1000 pucuk undangan telah disebar. Kebanyakan untuk relasi, keluarga besar, dan teman-teman serta kenalan kedua keluarga


Paket liburan bulan madu pun sudah dipesan jauh-jauh hari. Dengan tujuan Lombok, dan Raja Ampat di Papua. Tadinya ibu Naya mengusulkan untuk berkeliling Eropa, atau minimal Asia. Tapi Naya menolak. Baginya pemandangan alam di negeri sendiri tidak kalah dibanding tempat-tempat di belahan dunia yang lain.


Hari-hari kebebasan Naya tinggal menghitung hari. Tidak lama lagi ia akan menjadi seorang istri dan ia sama sekali tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti. Dari interaksi seadanya selama beberapa bulan ini, memberi Naya sedikit gambaran tentang Adrian.


Sejauh ini, Adrian selalu bersikap manis terhadap Naya. Membukakan pintu saat mereka keluar masuk suatu ruangan atau mobil, menarikkan kursi, dan hal-hal kecil lainnya yang mungkin sepele tapi memberikan poin lebih di mata Naya.


Naya berharap Adrian merupakan sosok laki-laki yang bisa menjadi seorang suami yang baik untuknya. Bisa mengerti dan memahami perasaan dan semua impiannya. Ah, semoga saja itu bukan cuma harapannya belaka tapi memang benar begitu adanya.

Bersambung...

Komentar

Postingan Populer